Kamis, 18 Desember 2014

Notes from Qatar 3: Dream, Do, Deliver

Judul: Notes From Qatar 3: Dream, Do, Deliver
Penulis: Muhammad Assad
Artistik: Achmad Subandi
Penerbit: Elex Media Komputindo
Tahun: 2014
Hlm: 231
ISBN: 9786020243337
Rating: 2/5
Sinopsis:
NFQ3:   
Notes from Qatar adalah buku best seller karya Muhammad Assad, buku ini sudah terbit dua seri yaitu Notes from Qatar 1 dan Notes from Qatar 2, dan sekarang ini terbit seri ketiga yaitu Notes From Qatar 3 dengan tag line Dream, Do, Deliver.

Bagi penggemar NFQ pasti sudah hapal bahwa ciri khas NFQ selalu memiliki tagline. Untuk NFQ1 adalah 3P (Positive, Persistence, Pray) dan untuk NFQ2 adalah 3H (Honest, Humble, Helpful). Untuk NFQ3 3D ini rumus tersebut bisa diturunkan menjadi Dream + Do = Deliver.

Hidup tanpa mimpi akan membuat kita tersesat, dan terlalu banyak mimpi tanpa berusaha hanya akan membuat kita berjalan di tempat. Sehingga ketiga faktor itu saling berhubungan. Jika kita mempunyai mimpi yang besar (Dream) dan mau berusaha keras untuk mewujudkan mimpi itu (Do), maka pasti akan memberikan hasil (Deliver) yang sangat dahsyat.

Editor's Note
Masih tetap menggunakan keunggulan kekhasannya Muhammad Assad memotivasi para pembacanya dengan penjelasan singkat, padat, membumi, namun pas di hati.

Setelah review saya untuk buku NFQ 2: Honest, Humble, Helpful saya langsung hajar buku NFQ 3 ini. Habis dibaca di kereta dalam perjalanan pulang. Setelah kita diajarkan untuk meraih kekuatan eksternal dengan menerapkan Honest, Humble, Helpful di buku NFQ 3 ini kita diajak untuk menerapkan kekuatan aksi melalui Dream, Do, Deliver.

Secara keseluruhan, buku ini nggak jauh berbeda dengan NFQ 2. Beberapa sudah pernah saya baca di blognya. Bahkan ada beberapa bagian NFQ 2 yang dibahas lagi di NFQ 3 ini. Selebihnya berisi foto-foto narsis Assad. Ah, sayang sekali. Saya kecewa. Jadi saya bayar mahal untuk lihat foto-foto berwarna Assad dalam NFQ 3 doang, nih? No offense ya, tapi memang harga buku ini terhitung mahal. Walau dalam taraf wajar untuk kualitas kertas dan halaman colorfulnya ini sih.

Secara manfaat, memang banyak manfaat yang bisa kita petik dalam buku ini. Tapi karena beberapa sudah pernah saya baca di blognya (bagian: "Misteri Jodoh dan Menikah Muda", "Apakah Karma itu Ada?"). Sisanya ada yang mengulang NFQ 2 tapi karena saya nggak hapal jadi tidak saya sebutkan bab nya disini ya. Nah karena beberapa ada pengulangan, jadi pas baca ini saya sering skip bagian-bagian yang sudah saya tahu isinya. Makanya buku ini langsung selesai dalam sekali duduk.

Hal baru dalam NFQ 3 ini diantaranya pada bab "Smoking is Killing", "The Unforgetable Idul Adha", "Maka, Bersujudlah", "Adversity Quotient", dll. Dan favorit saya pada bab "Belajar "Goblok" Bersama Bob Sadino" yang membuka mata saya bahwa untuk jadi sukses itu nggak perlu pinter-pinter amat, modal goblok aja malah bener (oke, ini ngawur, jangan diambil secara literal ya).

Anyway, saya tetap menikmati membaca NFQ 3 karena penyampaiannya ringan, bisa dihabiskan dalam sekali duduk, dan jujur saja pesannya bermanfaat bagi kalian yang mampu dan mau menerapkannya. But still, I'd give it 2 stars out of 5. I really need to read the first book! Somebody give me Notes From Qatar 1, please! :D

Rabu, 17 Desember 2014

Taste Life Twice for book lovers!



Meskipun jumlah blogger buku sekarang sudah banyak, namun rata-rata semuanya dikelola oleh pecinta dan penikmat buku dengan latar belakang yang berbeda. Tapi kalau blog buku yang dikelola oleh penggiat buku, atau saya sebut saja sebagai orang dalam? Well, jarang sekali kita temui ya.  

Orang dalam - the insiders, saya definisikan sebagai orang yang benar-benar berprofesi di dunia perbukuan sebagai penulis atau penerbit. 

Taste Life Twice, merupakan blog yang dikelola oleh Windry Ramadhina dan Ayu Prameswary. Mungkin teman-teman sudah familiar nama penulis (Windry) diatas. Mba Windry dan Mba Ayu membuat blog ini karena kecintaannya atas dunia buku. Mereka akan bicarakan apa pun tentang apa yang cuma orang dalam ketauhi. Just like what I said before, the insiders. Kalau saya boleh kutip dari halaman about TLT: tentang orang-orang di dalamnya, tentang tempat-tempat, tentang ’apa’ dan ‘bagaimana’

Nah lho, udah serasa the gossip girl belum? Tapi tentunya mereka bukan sekadar menggosip lah, buktinya mereka justru memberikan kabar pemberitaan/klarifikasi soal Chrismor. Masih ingat kabar yang menggegerkan para fans tentang kenapa ChrisMor keluar dari GagasMedia? Kamu bisa baca klarifikasi Chrismor via TLT dalam postingannya yang berjudul Menyapa Christian Simamora di Twigora.

Dengan akses dan aset yang TLT miliki, tentu kita sebagai komunitas pecinta buku rasanya bagai dapat angin segar nggak sih? Yang jelas, saya sih seneng banget bakal mendapatkan entri-entri blog terkait dunia kepenulisan yang hanya diketahui oleh the insiders.

Konsep TLT yang beda ini menurut saya bakal jadi strong point di dunia per-blog-bukuan. Dengan desain blog simple dan bersih (mirip blog saya kan, selera kita memang sama, Mbak *toss dulu ah*) jadi bikin betah mampir kesana. Sejauh ini sudah ada kategori yang sangat beragam. Ada Books, Love, Life, People, Places, dan How dan masing-masing turunannya.


BOOKS
Wow, mereka all out sekali menggarap konsep TLT ya. Keren. Pada kategori Books pun masih dibagi lagi kategorinya menjadi Poems, Children books, Non fiction, dan Novel. Saya suka dengan keseriusan mereka (nggak kayak saya) untuk menambahkan sentuhan manis foto bukunya yang di tata penuh gaya dan kelihatan banget kalau mereka pinter moto dan pake kamera yang bagus dan mahal.

LOVE
Pada kategori Love masih dibagi menjadi dua bagian, yaitu Inspirations dan Things. Pada bagian inspiration sejauh ini mereka baru menyediakan guest post dari penulis Prisca Primasari yang pamer membagi kisah perjalanannya ke Jiyugaoka, Jepang. Omaigaaat, keren ih guest postnya keren bener. Sedangkan pada Things, Mba Windry membahas notes-notes unyu didukung dengan foto-foto cantik. Aak, saya ngiri banget dengan foto-foto cantiknya. Kapan saya bisa menghiasi blog saya kayak gitu yaa, hmm.

LIFE
Masih banyak sekali hal-hal menarik yang mereka bahas dalam kategori lainnya. Seperti dalam kategori Life mereka membagi berita seputar buku. Sementara ini berita bukunya masih soal Giveaway yang mereka adakan sih. Semoga kedepannya lebih banyak ditulis berita dan liputan soal buku lainnya yang lebih menarik ya.

PEOPLE
Kategori People di pecah lagi menjadi Writer, Publisher, dan Illustrator. Saya suka kategori ini karena Mba Windry dan Mba Ayu going beyond by interviewing writer (ChrisMor) dan ilustrator (Gina). Mantab! Inilah kelebihan the insiders, mereka punya akses ke orang-orang di balik layar. Gonna stay tuned here!

PLACES
Places merupakan kategori khusus mereka mengulas bookdepository. Untuk ini nggak jauh beda dengan ulasan para blogger buku lainnya. Semoga kedepannya mereka lebih banyak mengulas toko buku offline, tempat-tempat yang tidak pernah kita kunjungi sebelumnya. Toko buku antik, toko buku bekas, dll. Definitely worth to wait.

HOW
Kategori terakhir, How, adalah kategori favorit saya. Berhubung saya orangnya nggak kreatif dan males ribet, saya selalu kagum sama mereka yang mau meluangkan waktunya untuk repot-repot melakukan DIY (do-it-yourself) hanya demi kepuasan pribadi. Wow. Selain DIY, tak lupa mereka menambahkan bagian Writing Tips, ini nih entri wajib yang harus dimiliki seorang penulis buku.

Oiya, TLT juga punya Empty Shelf Project lho tempat mereka jual buku bekas koleksi pribadinya di tokopedia. Koleksinya sesuai selera saya nih, wah gawat, bahaya buat diet beli buku saya. 

Last but not the least, saya rasa TLT ini paket komplit dengan konsep yang matang. Semoga seterusnya menjadi media perbukuan yang selalu rajin terupdate dan bermanfaat dalam dunia per-blog-bukuan. Definitely on my bookmark!

Senin, 15 Desember 2014

Wonderstruck

Judul: Wonderstruck
Penulis: Brian Selznick
Ilustrasi isi: Brian Selznick
Perancang sampul: Brian Selznick
Penerjemah: Marcalais Fransisca
Penyunting: Dhewiberta
Pemeriksa aksara: Ifah Nurjany & Nurani
Penata aksara: Iyan Wb
Penerbit: Mizan Fantasi
Hlm: 648
Tahun: 2013
ISBN: 9789794336854
Rating: 4,5/5
Pinjam: Steven @ Haremi Book Corner
Sinopsis:
WONDERSTRUCK:   
Kawanan serigala itu menatap Ben lekat dengan taring-taring putih berkilat dan lidah merah menjulur. Mereka mulai berlari melintasi hamparan salju tak berbatas di bawah terpaan sinar bulan. Jantung Ben berdegup bertalu-talu. Keringat mulai mengucur deras. Mimpi yang sama. Apa maksud semua ini? Mengapa mimpi-mimpi itu terus menghampirinya sejak kecelakaan itu terjadi? Andai Ben tahu, mimpi-mimpi itu barulah awal dari rentetan kejutan dalam hidupnya dan … petunjuk berharga untuk menemukan sang ayah yang lama menghilang.

Wonderstruck, disanjung pembaca di seluruh dunia sebagai salah satu buku menakjubkan. Ilustrasi yang sarat makna berpadu dengan teks yang mengalir menjadi satu cerita yang utuh, membuat Selznick layak disebut genius.



Ben, yang terlahir tuli sebelah sejak lahir baru saja kehilangan Ibunya. Dan sekarang ia tinggal di rumah Bibinya. Meski ia sayang dengan keluarganya, tapi Ben merasa tidak nyaman tinggal bersama mereka. Ia merindukan ibunya dan masih penasaran dengan siapa ayahnya. Hingga akhirnya Ben malah tersambar petir dan kehilangan kedua pendengarannya.

Berbekal petunjuk sebuah bandul perak yang berisi foto seorang pria, buku tua berjudul Wonderstruck, surat cinta dari pria bernama Daniel untuk ibunya, dan uang tabungan Ibunya. Ben nekat berangkat ke New York sendirian untuk mencari ayahnya.

Sampai di NY, Ben tersesat dan di tolong oleh seorang anak lelaki sebaya berambut keriting bernama Jamie. Karena ia kecopetan, akhirnya selama beberapa hari ia tinggal di museum. Tapi Ben tetap tidak menyerah mencari keberadaan ayahnya. Siapa sangka, American Museum of Natural History di NY malah membuka jalannya untuk menemukan ayah.

Kisah petualangan Ben dikisahkan dari POV orang pertama, dari sudut pandang Ben. Dideskripsikan dengan teks dan paragraf. Tapi disisi lain, ada ilustrasi dengan kisah yang berbeda. Tokoh ilustrasi ini adalah anak perempuan. Dan awalnya saya masih bingung, kenapa ada anak perempuan bernama Ben? Lalu semakin saya baca kok semakin nggak nyambung ya antara paragraf dengan deskripsinya? 

Padahal latarnya sama. Sama-sama American Museum of Natural History. Ya ternyata memang dua kisah yang berbeda. Tapi tenang saja, di akhir cerita kedua kisah ini saling berkaitan, semua jelas kok. Saya nya aja yang lemot, hahaha *tepok jidat*

Wow, pengalaman membaca graphic novel saya memang tidak banyak. Malah, buku ini buku graphic novel kedua yang pernah saya baca setelah Bordir by Marjane Satrapi. Sebelumnya pun saya juga tidak kecewa karena cerita dan pesan yang disampaikan bagus. Rupanya membaca graphic novel itu seru ya. 

Dengan separuh teks dan separuh gambar, kita sama-sama mendapatkan pengalaman yang menggugah emosi dan lebih terasa aja 'feel'nya. Dua kali lipat much better than reading full text (and twice as fast, haha). Walau saya juga pecinta komik, tentunya graphic novel, apalagi karya Brian Selznick, beda dong kualitasnya dari pada komik biasa *IYALAH MENURUT ELO??*

Buku ini habis saya baca dalam sekali duduk. Dari jam 1 AM - 4 AM. Kenapa saya bacanya pagi buta? Oke, itu sangat tidak penting untuk dijelaskan. Yang ingin saya utarakan adalah bahwa ceritanya sederhana, tidak bertele-tele, banyak ilustrasinya, jadinya cepet selesai meskipun totalnya 640 halaman. Meskipun tebel banget dan saya bacanya 3 jam, ternyata ada lho temen saya yang selesai baca dalam satu jam. Iya ada.

Masalah kecepatan baca tiap orang beda. Dan nggak ada yang salah dengan baca lambat atau baca cepat. Tapi bukan itu yang pengen saya bahas. Kembali ke Wonderstruck. Apa sih artinya wonderstruck?

WONDERSTRUCK. Artinya, 'kejutan yang menakjubkan'. ~p.99

Judul tersebut juga menjadi judul buku tua yang Ben temukan di kamar Ibunya. Diterbitkan oleh American Museum of Natural History. New York, New York. Isinya tentang museum sejarah AMNH, definisi kurator, koleksi museum dan tentang Lemari keajaiban. Isi buku ini dan buku Wonderstruck secara keseluruhan memegang peranan penting dalam plot cerita berikutnya.

Yang membuat saya terpukau tentu adalah ide cerita dan bagaimana Brian Selznick dengan cantik menceritakan sebuah kisah tentang kehilangan, tentang disabilitas, tentang persahabatan, cinta dan kasih sayang, serta merangkumnya dalam petualangan seru yang sarat akan pesan moral. 

Selain kepiawaian Brian Selznick dalam menulis, tidak bisa disangkal kalau ilustrasinya yang indah juga menjadi daya tarik buku ini. Dan yang paling utama, risetnya! Luar biasa detail sekali penggambaran ilustrasi maupun deskripsi tentang ANMH, setiap ruang-ruangnya pun sangat kaya detail, bahkan ruang arsip pun diceritakan dengan apik. Bikin saya seolah berada disana.

Belum lagi detail ilustrasi dan latar sejarah Panorama di Queens Museum of Art. Pernah saya lihat replika diorama (namanya Panorama, btw) NYC di film-film, tapi saya baru ngeh bener-bener ngeh ya setelah baca buku ini. 

Dan yang lebih oke lagi, Brian Selznick juga riset Gunflint Lake yang jadi latar kampung halaman Ben dan daerah sekitarnya serta mendalami kisah-kisah difabel tuna rungu maupun budaya-budaya Deaf. Nggak heran kalau ceritanya mengena sekali.

Secara keseluruhan, Brian Selznick membawakan sesuatu yang sederhana dan berbeda dengan sangat indah. Segala umur akan sangat relate ketika membaca buku ini. Kalau pun tidak suka dengan graphic novel, tidak ada salahnya dicoba lebih dulu. Karena membaca buku ini akan menjadi ssuatu pengalaman yang menyenangkan bagi siapa pun.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...