Kamis, 23 Oktober 2014

Kei: Kutemukan Cinta di Tengah Perang

Judul: Kei : Kutemukan Cinta di Tengah Perang
Penulis: Erni Aladjai
Penerbit: Gagas Media
Hlm: 250
Tahun: 19 Agustus 2013
ISBN: 9789797806491
Awards: Pemenang Unggulan Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2012
Rating: 3/5
Sinopsis:
KEI:   
Mari kuceritakan kisah sedih tentang kehilangan. Rasa sakit yang merupa serta perih yang menjejakkan duka. Namun, jangan terlalu bersedih, karena aku akan menceritakan pula tentang harapan. Tentang cinta yang tetap menyetia meski takdir hampir kehilangan pegangan.

Mari kuceritakan tentang orang-orang yang bertemu di bawah langit sewarna biru. Orang-orang yang memilih marah, lalu saling menorehkan luka. Juga kisah orang-orang yang memilih berjalan bersisian, dengan tangan tetap saling memegang.

Mari, mari kuceritakan tentang marah, tentang sedih, tentang langit dan senja yang tak searah, juga tentang cinta yang selalu ada dalam tiap cerita.

***

“Kei dituturkan lewat penokohan yang dinamis dan mendalam, pengelolaan alur yang intens dan kompleks tanpa menjadikan jalan cerita hilang. Latar yang dipilih pengarang berpadu secara selaras dengan konflik utama dalam cerita.” Pidato A.S. Laksana — Sastrawan dan Juri Sayembara Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta 2012



Tanah Kei, berada di Maluku Tenggara. Pulai kecil yang terletak di antara Laut Banda dan Laut Arafuru. Penduduknya sangat menjunjung tinggi adat sehingga tidak membeda-bedakan apakah mereka muslim atau protestan. Semua penduduk Kei berasal dari satu leluhur, hendaknya saling menghormati, karena begitulah hukum adat Kei.

Namun rupanya kerusuhan pun sampai juga ke tanah Kei. Entah siapa yang memprovokasi dan sekali konflik dimulai, maka tidak akan berhenti. Karena satu desa dengan desa lainnya terus ingin membalas dendam sehingga terbentuk lingkaran setan yang tidak ada habisnya.

Namira, seorang gadis muslim kehilangan kedua orangtuanya dalam kerusuhan. Ia diselamatkan oleh orang-orang ketika konflik terjadi dan terpaksa tinggal di penampungan. Disana ia bertemu dengan seorang pemuda protestan bernama Sala yang lembut hatinya. Ia juga kehilangan keluarga satu-satunya, sang Ibu, ketika desanya habis dibantai perusuh. Namun dengan hatinya damai dan penuh belas kasih, ia tidak sedikit pun berniat membalas dendam seperti saudara sedesanya yang lain. Ketika bertemu Namira, Sala jatuh cinta. Mereka saling menjaga dan bersama-sama membantu para pengungsi.



Keseluruhan novel ini sendiri sangat kental dengan adat budaya Kei. Saya tidak meragukan riset mendalam yang dilakukan Erni Aladjai dalam proses menulis buku ini. Hukum adat Kei dibahas dengan mendetail dalam setiap deskripsi untuk menjelaskan keadaan yang sedang terjadi. Sebagaimana di awal bab sudah dijelaskan panjang lebar tentang ritual Tutup Sasi. Kemudian petuah-petuah yang menggambarkan betapa damainya hukum adat Kei itu.

"Nak, kau tahu dalam ajaran adat Kei, satu-satunya alasan orang berperang atau berkelahi adalah untuk mempertahankan kehormatan kaum perempuan dan kedaulatan batas wilayah. Tolong jangan berkelahi lagi. Laki-laki yang benar-benar lelaki tak akan sembarang berkelahi"-hlm. 44

Secara keseluruhan, saya salut dengan Erni yang berhasil mengangkat topik budaya adat Indonesia bagian timur dengan sangat baik. Karena jujur saja, karya sastra kita jarang mengambil topik budaya diluar budaya Jawa (yang saya tahu lho, mungkin sebenernya banyak, cuma saya aja yang kurang update).

Dari segi riset, isi, alur, plot dan gaya bahasa tentu tidak perlu ditanyakan lagi, panitia Sayembara Kesenian DKJ sudah membuktikan dengan memilih novel ini menjadi pemenang pilihan. Hanya saja, menurut selera saya novel ini lumayan flat. 

Saya akui memang secara isi dan data tidak tercela, namun belum mampu menghadirkan suasana seperti yang seharusnya. Disaat kerusuhan terjadi, penduduk desa di bantai, saya turut merasakan ketragisannya, namun hati saya belum tergerak untuk benar-benar ikut sedih sampai nangis bombay. 

Pun ketika kisah cinta Namira dan Sala berkembang, saya ikut mesam-mesem tapi tidak ada perasaan tergugah yang sebagaimana seharusnya kisah cinta. Ya mungkin karena kisah cinta mereka bukan roman picisan sih, ya saya maklum hehe. Namun saya rasa yang kurang dari novel ini ya nuansa nya. Entah kenapa feelnya belum dapet. 

Anyway, saya menikmati mengikuti perjalanan dua anak manusia yang dipertemukan oleh konflik kerusuhan 1999. Dan terlebih lagi sangat menikmati detail budaya dan hukum adat Kei yang arif bijaksana. Jika bukan karena novel ini, saya mungkin tidak akan pernah tahu tanah Kei dan penduduknya eksis. Benar-benar ilmu berharga yang saya dapatkan dari novel Erni Aladjai. Pecinta sastra, wajib baca.



Terima kasih kepada Martina dan Erni Aladjai atas kisah dari tanah Kei yang luar biasa. Maaf karena setelah berbulan-bulan baru menyempatkan diri membaca. Dan juga butuh berbulan-bulan untuk menulis reviewnya.

Jumat, 10 Oktober 2014

Monthly Giveaway October 2014


Monthly Giveaway October

Cihuy, sudah masuk bulan Oktober aja. Sebelumnya saya mohon maaf karena beberapa bulan belakangan jarang update blog. Tapi saya usahakan mulai sekarang rutin minimal satu bulan ada satu update.

Bulan lalu saya dan teman-teman mengadakan event September to Remember, terima kasih atas partisipasinya. Nah, bagi yang belum beruntung jangan kecewa ya. Bulan ini kalian masih punya kesempatan untuk memenangkan buku gratis.

1. Balotelli vs. Zlatan by Andy S. & Lygia P.
2. Rahasia Inovasi Steve Jobs by Carmine Gallo (Hard Cover)

Event kali ini disponsori oleh Steven @ Haremi Book Corner dan saya. Steven menyediakan buku nonfiksi terbitan Grasindo, berjudul Balotelli vs. Zlatan by Andy S. & Lygia P. jadi buat kamu pecinta sepak bola nggak boleh melewatkan kesempatan ini. 

Buku kedua, saya sponsori, berjudul Rahasia Inovasi Steve Jobs by Carmine Gallo yang juga menulis buku laris Rahasia Presentasi Steve Jobs. Bagi kamu pecinta buku motivasi dan ingin tahu rahasia sukses legendary businessman, Steve Jobs, wajib koleksi buku ini.

How to get those books? 
you simply need to fill out this Rafflecopter form below

  • Sign in: masukkan email atau username facebook kamu
  • Wajib isi nama dan identitas yang bisa di hubungi
  • Wajib meninggalkan komentar 
  • Lainnya Optional (follow GFC, subscribe email, follow twitter, tweet giveaway, dll) 
  • Semakin banyak mengisi entry, maka kesempatan menang semakin besar
  • Giveaway berlangsung tanggal 10-10-2014 pukul 09.00 WIB s/d 20-10-2014 pukul 12.00 WIB
  • Pemenang akan diumumkan tanggal 20 Oktober 2014
  • Saya akan mengecek seluruh entry dan entry yg tidak valid akan dianggap gugur
  • Ada yang mau di tanyakan? [contact me]
  • Goodluck (^________^)

Good Luck

Senin, 06 Oktober 2014

Moon in the Spring

Judul: Moon in the Spring
Penulis: Hyun Go Wun
Penerjemah: Sitta Hapsari
Penyunting: Selsa Chintya
Proofreader: Dini Novita Sari
Ilustrator isi: Frendy Putra, @teguhra
Penerbit: Penerbit Haru
Tahun: September 2014
ISBN: 9786027742390
Hlm: 405
Rating: 3,5/5
Harga: IDR 67000
Sinopsis:
MOON IN THE SPRING:   
Di malam bulan purnama, seorang dewi terjebak bersama seorang pria berhati dingin dan licik di permukaan bumi.

Dewi Langit, Pria Bumi, lalu Malaikat Kematian….

*

Apakah wanita itu benar-benar tunanganku?

Pria itu bernama Kang Min-Hyuk, pria berhati dingin dan licik. Ia tidak tampak terkejut ketika tunangannya bangkit dari kematian. Ia tidak memiliki perasaan apa pun kepada wanita itu. Akan tetapi sesudah kejadian itu, wanita itu terlihat seperti wanita lain. Dan wanita itu tidak pernah bisa hilang dari pikirannya.

Apakah pria itu akan berhasil mengetahui identitasku yang sebenarnya?

Ji-Wan melanggar peraturan langit dan turun ke bumi untuk menggantikan posisi seorang wanita yang meninggal. Di sana, ia bertemu dengan Min-Hyuk, tunangan wanita yang ia gantikan. Sejak bertemu dengannya, Ji-Wan tahu bahwa pria itu adalah orang yang tidak mudah untuk dihadapi. Walaupun begitu, Ji-Wan berniat untuk bisa terus bertahan di dunia manusia… meski ia merasa lelah.

Seorang Dewi Bulan bernama Dal-hee turun ke bumi karena mendengar suara seseorang yang memohon pertolongan. Gadis itu bernama Ji-Wan, ia memohon agar bisa mati saja. Rupanya tidak hanya Dal-hee yang datang, tapi Malaikat Kematian dari dunia bawah juga datang untuk menjemput Ji-Wan. Karena kejujuran dan belas kasihan, Dal-hee yang bisa merasakan kesusahan hati Ji-Wan berjanji untuk memenuhi permintaan terakhir gadis itu sebelum nyawanya dicabut. Yakni, secara paksa bereinkarnasi ke dalam tubuh kosong Ji-Wan.

--- Yang pasti, aku sama sekali tidak takut menghadapi apa pun. Aku sudah pernah merasakan mati, dan aku hidup lagi. p.95

Sang Dewi Bulan sekarang terlahir kembali dalam tubuh seorang manusia, ia melanggar peraturan dan menyebabkan kekacauan di langit. Malaikat Kematian yang merasa bertanggung jawab karena tidak mencegah Dewi pun akhirnya ikut tinggal di bumi. Lalu mereka berusaha untuk memanusiakan manusia, Kang Min-Hyuk, pria yang tidak punya hati.

Kisah awal dibuka dengan bab khusus bagaimana latar belakang Dal-Hee sebelum menjadi seorang calon Dewi. Menurut saya, ini salah satu pengetahuan kearifan lokal Korea yang tak jauh beda dengan budaya Jawa.

Dalam cerita Moon in the Spring, Dal-Hee dan kakaknya dikejar oleh Harimau, mereka berdoa meminta pertolongan, lalu turun tali dari langit. Kakak beradik itupun memanjat tali sehingga selamat dari terkaman Harimau. Mereka terus memanjat hingga sampai langit dan menjadi calon Dewa/Dewi. Untuk menjadi seorang Dewa/Dewi yang seutuhnya, mereka harus menjalani reinkarnasi hingga tujuh kali berturut-turut. Tujuannya agar sisi manusia mereka yang penuh dengan nafsu, egois, dan hal-hal duniawi musnah sehingga layak disebut sebagai Dewa/Dewi.

Tidak banyak yang tahu, tapi mitos reinkarnasi hingga tujuh kali pun pernah saya dengar dalam kepercayaan kejawen. Selain soal reinkarnasi, juga ada istilah menitis. Saya nggak tahu bedanya apa. Bahkan apabila masih banyak menanggung dosa, reinkarnasi pun tidak hanya sebatas manusia, tapi bisa menjadi hewan sebelum akhirnya dosanya terbayar dan bisa bereinkarnasi menjadi manusia kembali atau pada akhirnya jiwanya diterima oleh Yang Maha Kuasa. Well, betapa miripnya nilai-nilai moral yang membudaya diseluruh dataran Asia.

Yang paling saya suka tentu karakter Ji-Wan (a.k.a Dal-Hee/ Dewi Bulan). Ji-Wan yang ini polos, berprinsip tegas, penuh belas kasih, sabar dan mudah memaafkan. Sungguh terpuji sekali ya sifat-sifatnya, yang tentu saja sifat penuh kebaikan khas seorang Dewi. Hanya saja, terkadang saya merasa Ji-Wan terlalu jahat terhadap Kang Min-Hyuk, karena dalam dialog kedua karakter tersebut Ji-Wan lebih sering menyindir dan bersikap sarkastik (meskipun apa yang ia bicarakan benar adanya).

"Berbahaya"
"Kalau begitu aku sendiri saja yang melompat. Kau di sini saja."

"Tidak bisa. Aku tidak mungkin membiarkanmu dalam keadaan berbahaya seperti itu, sendirian." p.209

Hal tersebut terlihat sangat kontras dengan karakter Min-Hyuk yang digambarkan dingin, licik, kejam. Namun dalam interaksinya kepada Ji-Wan sangat lembut dan penuh cinta. Tapi tentu saja diluar semua itu, apabila keduanya tidak sedang berinteraksi, karakternya akan kembali seperti premis semula. Perkembangan karakter Min Hyuk yang perlahan berhasil dimanusiakan kembali oleh Ji-Wan pun sangat manis. Lelaki itu mulai peduli, perhatian, dan tentu saja perlahan mencintai Ji-Wan.

Yang sangat saya sayangkan disini adalah tokoh Malaikat Kematian. Pada awal kisah kehadirannya cukup penting dan saya menantikan peran besarnya, secara di sinopsis cover bukunya Malaikat Kematian disinggung-singgung, tentu membuat saya berharap lebih. Tapi semakin kebelakang, peran Malaikat Kematian cenderung berkurang. Ah, too bad. Seandainya bisa dieksplore lebih banyak, tentu akan sangat menarik karena menurut saya karakternya mirip si alien dalam You Who Came From Another Star.

"Anda tidak bisa tidur bukan karena saya, tetapi karena keegoisan Anda sendiri. Sejak lahir, Anda merasa tidak pernah mendapatkan yang Anda mau. Jadi... saya yakin kalau Anda juga tidak akan bisa memahami perasaan yang paling mulia di dunia ini."

"Tetapi aku tidak pernah melakukan kesalahan apa pun."

"Ya Tuhan! Dengan hanya melihat, memikirkan, dan mencintai saya seorang saja, sudah menjadi wujud dari keegoisan Anda. Dan menurut saya itu salah." p.191

Biasanya saya jarang menyukai buku genre fantasy-romance, tapi dengan sukses Hyun Go-Wun menulis layaknya drama korea sehingga membuat saya teringat drakor You Who Came From Another Star, Arang and the Magistrate, dll. Mungkin pecinta drama korea yang juga suka membaca novel bisa lebih relate dengan kisah cinta terlarang dua dunia. 

Saya mengkoleksi buku-buku Hyun Go Wun terbitan Haru, dan seluruh karyanya selalu penuh pesan moral. Tidak sekedar cerita romance saja. Sejauh ini favorit saya masih 4 Ways to Get a Wife (sayang sampai sekarang belum kesampaian pengen  nulis reviewnya). Tapi untuk cerita yang 'berbeda' dari yang lain tentu saya angkat empat jempol untuk Moon in the Spring. Sedangkan, untuk buku Always With Me (sudah saya review disini) juga bagus, terutama penuh dengan pesan moral, buku yang mengesankan menurut saya.

Secara keseluruhan, saya sangat menikmati kisah cinta terlarang antara manusia dengan Dewi Bulan. Saya bahkan terhanyut dalam ceritanya dan ikut merasakan bagaimana cinta itu tumbuh walaupun sang Dewi sudah berusaha keras untuk menghalanginya. Hiks, hiks.. lalu apakah kisah mereka berakhir bahagia? I really hope so.. *elap umbel*
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...