Sabtu, 12 Mei 2012

Uglies

Judul: Uglies (Uglies #1)
Penulis: Scott Westerfeld
Penerjemah: Yunita Candra S.
Penyunting: Lulu Fitri Rahman
Penerbit: Matahati
Tahun: April2010
Hlm: 432
ISBN: 9786028590129
Harga: IDR 63.000

Sinopsis Uglies:
Tally Youngblood akan berusia enam belas tahun, dan dia tak sabar menunggunya. Di dunia Tally, umur enam belas tahun merupakan awal untuk berubah dari buruk rupa menjadi rupawan. Dengan menjadi rupawan, dia akan memasuki dunia berteknologi tinggi yang menawarkan kehidupan untuk selalu bersenang-senang. Tinggal beberapa minggu lagi, Tally akan memasuki dunia tersebut.

Namun, dia berjumpa dengan Shay, sesama buruk rupa, yang tidak yakin mau berubah menjadi rupawan. Shay mengajaknya kabur ke dunia luar yang penuh resiko. Saat Shay melarikan diri, Tally mempelajari suatu fakta dari dunia rupawan—yang mengguncangkan dan ternyata tak secantik wujudnya.

Tally berada dalam situasi terburuk yang tak pernah dibayangkannya: mengkhianati temannya sendiri atau takkan bisa berubah menjadi cantik. Pilihan Tally akan mengubah dunianya untuk selamanya.

REVIEW

Tally Youngblood tidak sabar menanti ulang tahunnya yang ke-16 agar bisa dioperasi untuk menjadi rupawan dan bergabung bersama Peris, sahabatnya. Peris yang lebih dulu berulang tahun sekarang tinggal di Kota Rupawan, tempat para rupawan baru bersenang-senang, berpesta sepuasnya, tidur larut malam, dan bebas melakukan apapun yang diinginkan kapan pun mereka mau.

Namun Tally harus menunggu 3 bulan lagi sebelum bisa meninggalkan Uglyville (kota untuk kaum buruk rupa) dan saat itulah ia bertemu Shay. Tally dan Shay segera menjadi sahabat akrab. Mereka berulang tahun di hari yang sama dan segera memutuskan menghabiskan sisa waktu yang ada dengan melanggar peraturan sebanyak mungkin.

Hingga akhirnya Shay mengajaknya untuk kabur sebelum waktu operasi mereka tiba. Shay memilih untuk menjadi tetap buruk rupa dan tinggal bersama warga Smoke di dunia luar dengan gaya hidup mirip orang Rusty. Tally menolak, namun Shay tetap kabur dan membuat Tally berjanji untuk merahasiakannya. Pilihan Tally ternyata malah membuatnya ditahan dan diancam oleh Special Circumstance tidak akan di operasi selamanya jika tidak mau membantu Special Circumstance untuk menyelidiki kasus kaburnya Shay dan beberapa kaum buruk rupa lainnya.

Akhirnya, berbekal dengan petunjuk dari Shay, ia mulai mencari kota Smoke lalu memberitahukan lokasi kota tersebut kepada Special Circumstance yang berkeinginan untuk mengambil kembali warganya dan mengubah mereka semua menjadi rupawan. Tally menyusul Shay untuk mengkhianati sahabatnya itu serta orang-orang Smoke.


Uglyville vs. Kota Rupawan

Kota Rupawan adalah tempat tinggal warga kota yang baru saja menjalankan operasi, terutama di daerah Garbo Mansion tempat penuh kesenangan paling gila-gilaan. Tempat paling banyak rentetan pesta dilangsungkan dan sampanye yang mengalir tanpa henti. Sedangkan Uglyville adalah kota tempat tinggal kaum buruk rupa (usia 10-16 tahun) dimana masing-masing anak tinggal di asrama untuk bersekolah sebelum memulai operasi wajib mereka. 


Kaum Rusty

Kaum Rusty disini dipandang sebagai masyarakat barbar zaman dulu yang secara massive membangun kotanya dengan besi, mengeksploitasi alam (membakar kayu, makan daging binatang, dll) serta menggunakan bahan bakar minyak yang melubangi ozon. Itu adalah zaman kita sekarang dong berarti. Menurut mereka seluruh tindakan pengrusakan itu tidak perlu dan sangat tidak manusiawi. Mereka sekarang memiliki gaya hidup ramah lingkungan dan berusaha untuk tidak merusak bumi. Nah, warga Smoke disini adalah pelarian dari Kota Rupawan, mereka menolak di operasi dan lebih memilih hidup buruk rupa dengan bergantung pada alam.


Cute-mentary

Novel bergenre dystopian yang amat sangat menarik untuk diikuti. Saat ini menjadi rupawan itu adalah suatu hal yang di wajibkan dan menjadi lumrah. Setiap orang ingin menjadi rupawan. Dengan bola mata bulat, bibir penuh berwarna pink sempurna, kulit sehat dan bersinar sewarna mutiara, mereka merasa sempurna. Tapi dibalik perubahan tersebut tidak hanya fisik aja yang berubah namun pola pikir mereka juga ikut berubah.

Salah satu inti dari cerita ini adalah keinginan untuk menjadi sempurna secara fisik merupakan hal yang sangat mendasar. Sehingga seseorang, bahkan suatu negara mewajibkan adanya perubahan itu. Menjadi rupawan adalah salah satu bentuk kontrol sosial negara terhadap warganya. Ketika semua orang menjadi rupawan, maka ia akan merasa jauh lebih baik dan tidak merasa iri maupun benci, hal tersebut mengontrol mereka agar tidak melakukan tindak kekerasan maupun saling menjatuhkan dan berperang seperti kaum Rusty pada zaman dahulu.

Disaat negara berkuasa seperti itu, ada segelintir orang yang memilih untuk hidup di alam bebas. Jauh dari segala kenikmatan teknologi yang diberikan negara. Mereka memilih untuk tetap menjadi buruk rupa dan tidak mau di kontrol oleh siapapun, at least mereka masih punya hak untuk bebas menentukan pilihannya: menjadi diri sendiri.

Alurnya yang cepat membuat buku ini nyaman di baca. Setiap lembarnya membuat saya terkesan. Menurut saya buku ini jauh lebih baik daripada Delirium. Meskipun negara mengontrol mereka ketika menjadi rupawan namun mereka masih bebas memilih pekerjaan maupun pasangan yang diinginkan. Selain itu, penggambaran pemerintahan, peraturan, tata wilayah kota, hingga morfologi tubuh manusia 'rupawan' yang detil merupakan poin plus-plus yang membuat saya meletakkan Uglies Series dalam jajaran novel favorit sepanjang masa. 


My reviews of the series


-----------------^^-----------------
Kamu bisa pesan buku ini via Uglies@Bookoopedia
Review ditulis dalam rangka Lomba Estafet Review Buku #LERB
Tongkat estafet ini aku serahkan pada Viktoria@Writings From A Reader
-----------------^^-----------------


23 komentar:

  1. ide ceritanya "main fisik" ya... hehe..
    Kalau kamu jadi salah satu tokohnya, mau hidup di Kota Rupawan atau jadi warga Smoke, ky?

    btw, nice font...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jujur, jadi warga Kota Rupawan itu benar-benar nyaman!! Hehe, I'd like to try it once. Kalo di Smoke kita balik lagi ke zaman dulu mba, semacam tinggal di perkemahan besar.. masih civilized zaman sekarang malah :P

      Hihi, thank you~ semoga Fontnya uda bikin nyaman :D

      Hapus
  2. jalan cerita utamanya memang mirip banget sama delirium. itu yang bikin saya pikir pikir, jangan jangan si penulis delirium terinspirasi dari cerita uglies ini..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hoo, Uglies terbit lebih dulu dari Delirium ya?

      Aku kebetulan baca Delirium lebih dulu dan setelah baca Uglies jadi agak-agak lupa sama cerita Delirium (saking dahsyatnya Uglies kayaknya) hehe.

      Atau... seluruh dystopian jalan ceritanya emang mirip2 yaa? Cuma kemiripan Delirium dan Uglies ini banyak bgt. Apalagi dari segi kontrol sosial dan pemerintahannya. Cuma beda pendekatan aja *spekulasi*

      Hapus
  3. kyaaa buku seri Ugliesku dari jaman bahulak belum kebaca, huhuhu belum ada mood tapi pengen baca #nahlo

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hayo mba sulis, timbunannya itu loooh, hayoo loo.

      Hapus
  4. Ini di Gramedia masih ada gak ya?
    mau bacaa >.<

    BalasHapus
  5. Di Gramedia kurang tau ya, tergantung Gramedia kota masing2.

    Tapi di toko buku online gitu banyak cz mereka pesen langsung ke gudang penerbitnya.

    Aku saranin kamu pesan langsung ke (klik) Penerbit Matahati bisa dpt diskon khusus.

    Di (klik) Bukukita terbitan matahati lagi diskon 50% karena ada promo bulan Ramadhan lho, cek aja.

    BalasHapus
  6. Halo Oky, salam kenal ya. Aku Lulu. Kebetulan pas lagi blogwalking, aku ketemu blogmu. Taunya di dalamnya ada beberapa buku yang pernah kuedit. Aku izin bikin link-nya di blogku ya. Aku suka ngumpulin resensi buku-buku yang pernah kuterjemahkan atau kuedit aja. Thanks, Oky ^^

    Btw, blognya nyaman sekali dibaca. Rapi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Halo mba Lulu, makasih ya uda mampir kemari. Wow, seorang editor dan penerjemah rupanya. Salam kenal juga ya ^^

      Iya, silakan aja di link. Btw, buku yg mana aja nih yg pernah di edit? :D

      Hapus
    2. Sama-sama, Oky. Ada beberapa buku di blog-ku: lamfaro.wordpress.com. Mampir yuk:)

      Hapus
    3. Diantaranya Uglies series ini.. *barusan mampir*

      Btw, Vampire Academy series masih masuk to-read list nih. Semoga sempat saya review sekalian :)

      Hapus
    4. Siiip, met baca ya, oky. Ceritanya seru :D

      Hapus
  7. aku baru mau baca...hehehe... :)

    BalasHapus
  8. Dari dulu kepengen buku ini belum kesampaian :D Belum baca Delirium juga sih ._. Kalo ada dua pilihan gitu jadi bingung ya mbak. Pengen hidup di Kota Rupawan tapi terkekang. Pengen di Uglyville serasa hidup di zaman batu :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku lebih suka uglies say dari pada delirium. Iyaa, lebih baik di uglyville sih.. kayaknya lebih bebas :)

      Hapus
  9. rasa-rasanya, ceritanya nyindir korea :V

    BalasHapus
    Balasan
    1. dan memang iya, setelah saya baca, kurang lebih begitu isinya.

      Hapus
    2. Hahaha akhirnya baca juga

      Hapus
  10. yang terbayang, kalo persepsi cantik semua orang sama (mata bulat, putih, dll) jadi setiap operasi wajib dilakukan dan selesai, mukanya sama dong ?

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...