Senin, 10 Desember 2012

Embroideries - Bordir

Judul: Bordir
Penulis: Marjane Satrapi
Penerjemah: Tanti Lesmana
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Hlm: 136
Tahun: 2006
ISBN: 9792220070
Rated: 3.5/5
Sinopsis:
BORDIR:   
Setelah sukses dengan Persepolis, Marjane Satrapi menghadirkan Bordir, buku penuh kejutan yang menyibak sekelumit kehidupan pribadi sejumlah wanita Iran. Dalam acara kumpul-kumpul bersama untuk minum teh, terjadi pembicaraan antarwanita, membahas... apa lagi kalau bukan cinta dan segala tingkah polah pria. Nenek Marjane yang selalu terus terang, ibunya yang tenang, bibirnya yang glamor dan eksentrik, serta teman - temannya dan para tetangga yang semua wanita bertukar cerita tentang keperawanan, cara meloloskan diri dari kawin paksa, operasi plastik, dan menjadi wanita simpanan.

Membaca kisah hidup mereka yang dituangkan dalam percakapan-percakapan ringan --- kadang lucu, kadang tragis --- membuat kita serasa berada di tengah-tengah para wanita ini, ikut berbagi cerita, dan mendengarkan topik-topik yang salah satu di antaranya tentu pernah dialami wanita di mana pun.

Sudah setahun lebih saya memiliki buku ini tapi masih belum tergerak untuk membacanya hingga akhirnya saya penasaran sekali seperti apa bentuk Graphic Novels itu. Dan saya langsung teringat bahwa saya punya buku Graphic Novel berjudul Bordir - Marjane Satrapi.

Rupanya Graphic Novel bentuknya mirip komik ya, hanya saja lebih bebas bermain tanpa ada kolom yang memisahkan antar adegan/dialog. Oh jadi begini toh bentuknya.. ilustrasinya sederhana banget, mirip gambar di komik Shinchan, sederhana dan hanya berisi warna hitam putih saja tanpa ada tambahan shade atau hmm.. apa ya istilah teknisnya, saya kurang ngerti, yang jelas ini gambar simpel banget, lihat aja gambar wanita di covernya.

Setelah rasa penasaran terpuaskan saya mulai fokus ke dalam cerita yang rupanya juga nggak kalah menariknya. Cerita ini dituturkan kembali oleh Satrapi sendiri tentang kebiasaan keluarga Iran, lebih tepatnya keluarganya sendiri--Keluarga Satrapi.

Keluarga Satrapi, terutama para perempuannya, punya agenda favorit selepas makan siang, yaitu berdiskusi. Menurut nenek Satrapi berdiskusi itu memiliki makna tersendiri, "Membicarakan orang dibelakang punggung mereka berguna untuk melepaskan unek-unek." haha, yup, apalagi kalo bukan bergosip namanya. Sedangkan yang mereka diskusikan tidak jauh-jauh dari topik seks. Jadi mulai dari sini, saya beri status DEWASA ya. 

Sesi berdiskusi ini hanya terjadi satu kali duduk, di suatu siang dan di hadiri oleh 9 wanita yang saling berkerabat dan berteman. Sambil melepas jilbab mereka bersantai minum Samovar (teh). Satu persatu kemudian menggosipkan orang yang mereka kenal atau tentang diri mereka sendiri. Jadi dalam sekali duduk itu ceritanya bisa kemana-mana, tahu sendiri lah kalau bergosip kayak apa.

Topik gosipnya nggak jauh-jauh dari operasi plastik, pernikahan, ranjang, dan kehidupan seks para perempuan Iran ini. Hingga akhirnya terjawab sudah apa makna Bordir yang dijadikan judul novel grafis milik Marjane Satrapi yang bikin saya ngakak gegulingan.

Saya sudah tidak asing dengan cerita-cerita dan budaya dari timur tengah dimana tradisi seringkali  mengekang kebebasan perempuan untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Pengalaman-pengalaman yang mereka tuturkan tidak jauh berbeda dari yang pernah saya baca di buku The Girls of Riyadh maupun Kabul Beauty School.

Percakapan-percakapan mereka bikin saya miris sekaligus geli. Marjane Satrapi menceritakan pengalaman para wanita ini dengan gamblang sampai saya jadi bingung harus ketawa atau sedih. This bittersweet feeling..

Sedihnya, dalam budaya Iran masih seringkali terjadi perjodohan dimana anak perempuan remaja di nikahkan dengan pria yang pantas menjadi kakeknya. Selain itu tidak jarang mereka kena tipu, setelah di nikahi lalu diceraikan begitu saja beberapa hari kemudian. Lantas nggak heran kalau ada perempuan Iran modern yang kemudian jadi pro-budaya Barat. Saya hanya bisa bersyukur karena saya beruntung sekali hidup di negara yang sudah menyetarakan gender, it could have been different.


MONTHLY GIVEAWAY DESEMBER 2012


Buku Emrbroideries - Bordir karya Marjane Satrapi untuk satu pemenang beruntung, temukan sendiri apa makna Bordir dalam novel grafis ini. Tapi~ pastikan kamu sudah cukup umur ya, I strictly warn this book is for above 17+.

CLOSED!!
Congratulation 

Rahmatika D. Amalia

(Pemenang harap segera konfirmasi dalam waktu 2x24 jam jika tidak akan dipilih pemenang baru.)
Caranya langsung aja isi Rafflecopter di bawah :

  • Sign in: masukkan email atau username facebook kamu
  • Wajib isi nama dan identitas yang bisa di hubungi
  • Wajib meninggalkan komentar dan follow GFC
  • Lainnya Optional (subscribe email, follow twitter, tweet giveaway, dll) 
  • Semakin banyak mengisi entry, maka kesempatan menang semakin besar
  • Giveaway berlangsung tanggal 10 s/d 20-12-2012 
  • Pemenang akan diumumkan tanggal 20 Desember 2012
  • Saya akan mengecek seluruh entry dan yg tidak valid akan dianggap gugur
  • Goodluck (^________^)
a Rafflecopter giveaway

22 komentar:

  1. mungkin fakta bahwa perempuan Indonesia sudah bisa memiliki pendapatnya sendiri dan sudah memiliki kebebasan untuk melakukan segala sesuatu. soalnya baca-baca masih ada negara yg melarang wanita untuk bawa mobil sendiri =_="

    BalasHapus
  2. ini buku lama ya kalau gak salah? graphic novel tho ternyata
    jaman aku SMA udah ada buku ini
    waktu itu mau beli, eh kok judulnya "bordir" bikin keinget sama rumah bordil
    hahahaha

    ternyata beneran ya isinya tentang seks dkknya
    wah untung waktu SMA nggak jadi beli hihihihi

    oky, koreksi sedikit
    itu penulisnya MARJANE kan ya?
    kamu nulisnya MARSANE di akhir review
    terus nulis lagi MARHANE di tag labels
    hueueueue

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, ini buku lumayan lama terbitan tahun 2006. Keke, emang buat dewasa nih.. aku juga baru berani baca setelah umur segini. Keke..

      OH IYAAA.. Muahahaha aduh maaf, ngakak bgt nih aku. Makasih ya uda dikoreksi, langsung ku edit ;)

      Hapus
  3. Kebebasan untuk mengembangkan dirinya. Baik itu lewat pendidikan, maupun lewat hal hal lain yang dulu sempat dipandang sebelah mata. Sekarang pemerintah juga sangat mendukung pengembangan diri bagi wanita. Baik itu anak- anak, remaja, maupun dewasa.

    BalasHapus
  4. alhmdulillah.. zaman kita perempuan memiliki kebebasan.
    terutama kebebasan dalam pendidikan dan berkarya. dari cerita-cerita dulu, kalo perempuan itu tidak boleh melakukan ini itu dan tidak boleh sama derajatnya dengan laki-laki.. kita dulu hanya jadi budak laki-laki, yang tak bisa apa2. (kaya di film Queen seon deok, dongyi dan janggeum..)

    alhmdulillah.. sekarang kita bisambisa melakukan apa pun , namun meski kita memiliki kebebasan dan harkat dan martabat yg sama dg laki-laki, kita tak boleh lupa akn kodrat kita sebagai perempuan(sadar diri), apalagi yg sudah berumah tangga dan punya anak ^^

    BalasHapus
  5. Sebenernya banyak banget yang harus disyukuri dari kebebasan perempuan di jaman sekarang, tapi berhubung judul bukunya Bordir, aku jadi inget kalau dulu ada Jugun Ianfu yang merupakan sebutan bagi wanita yang dijadikan pelampiasan seks bagi para tentara Jepang yang biasa disebut Dai Nippon, jadi aku sangat bersyukur banget bahwa sekarang ini perempuan sudah bebas dari Jepang dan tidak lagi menjadi melapiasan untuk urusan seks tentara Jepang dan bebas berkarir di semua bidang yang mereka inginkan.

    BalasHapus
  6. yang saya syukuri dari kebebasan wanita Indonesia sekarang: bisa sekolah ke luar negeri, ga harus dikurung di rumah mulu, bisa jalan kemana2, bisa pacaran (belum nyoba kalo yang ini), bisa pake hotpants (kalo ini sih bukan bagian saya), trus bisa share opini sama ayah saya dengan bebas mengenai politik. terussss, ga pake acara arranged marriage. hehe.

    BalasHapus
  7. Wuih.. Ini yg nulis perempuan Iran ya? Kayaknya aku belum pernah baca karya-karya penulis Iran deh. Ikutan giveaway-nya ahh...

    Hhhmmm... Soal kebebasan yang sekarang aku rasakan sih tentunya patut disyukuri. Karena aku bebas sekolah sampai setinggi-tingginya, dan kemampuanku juga diakui oleh orang lain. Meskipun ya, menurutku kebebasan itu tetap harus bertanggung jawab.

    Kita memang memiliki kebebasan, tapi orang lain juga punya. Jangan sampai kita yang merasa memiliki kebebasan, terus jadi kebablasan dan justru melanggar kebebasan orang lain. Soalnya, setiap orang pasti punya hak dan kewajiban kan...

    Misalnya nih, aku bebas mau dengerin musik apa aja, tapi kalau musik yang aku dengarkan itu (dengan suara keras) mengganggu orang di sebelahku (jadi gak konsen kerja misalnya), berarti aku udah melanggar kebebasan orang itu untuk merasakan ketenangan. (Halah, curhat.. xD)

    Jadi, karena manusia makhluk sosial, harus inget juga meskipun kita bebas, tapi kita juga terikat oleh norma-norma dan hukum. Kalo kebablasan ya, pasti nanti diri sendiri yang bakal rugi... :DD #jadipanjang

    BalasHapus
  8. Kebebasan sekolah dan keluar rumah! Aku ngga bisa bayangin kalo aku skrg ini lg dikekang di rumah sama ortu, dan suruh bantu2 mama. Ngga boleh keluar rumah kalo ngga sama ortu. Ahhhhhh itu hal yang ngga bisa dibayangin banget:|

    BalasHapus
  9. Liat KTP cek umur X_X eh ternyata belum cukup umur euy.

    BalasHapus
  10. Barusan saya membaca artikel tentang satu tradisi yang meresahkan kaum perempuan di negara Kyrgystan
    dimana perempuan2 disana diculik paksa untuk dinikahi. Mereka diperkosa di malam pertama yg mengakibatkan mau tidak mau mereka harus menerima paksaan pernikahan itu. Bisa melawan tp hukuman untuk si pria cuma 3 tahun penjara jika dilaporkan ke polisi. Dan organisasi perempuan disana menganggap untuk menolak kebiasaan ini, harga perempuan lebih rendah dr pada harga sapi. menculik peremuan hukumannya cuma 3 thn dan menculik sapi dihukum 11 tahun, ini tidak adil, kan? dimana kebebasan perempuan untuk menentukan sendiri pasangannya hidupnya, yg rata2 jika mereka diculik dan dipaksa menikah itu menyiksa batin.

    Jd, sebagai perempuan Indonesia, saya merasa bersyukur bahwa tradisi paksaan/perjodohan seperti itu tidak ada dinegara kita, kita bebas menolak, keluar rumah dg batas yg wajar. kita bebas untuk menentukan sendiri hidup kita.

    Saya jd pengen tau, gimana tradisi wanita Iran, apakah sama dg Indonesia, atau dg negara lainnya? ataukah mreka lebih beruntung dibandingkan perempuan2 dr negara lain.

    BalasHapus
  11. Balasan
    1. Aku bersyukur wanita Indonesia sdh bisa menuntut ilmu dan bekerja sesuai passion mereka.

      Hapus
  12. Meskipun saya cowok ya, namun suatu saat pasti saya akan memiliki anak perempuan.
    jika masih ada budaya yang seperti itu, saya pikir masalah gender belum terselesaikan.
    Di Indonesia dulu memang sudah terjadi, namun setelah "Habis Gelap Terbitlah Terang" dari Ibu RA Kartini, keseimbangan gender mulai ada di negeri kita ini
    Terima kasih Ibu Kartini ^^

    BalasHapus
  13. yang aku syukuri... kita bisa menuntut ilmu setinggi mungkin, terusss... kita gak mesti nikah di umur belasan tahun xD

    BalasHapus
  14. kalau saya, syukurnya sekarang kita boleh mengenyam pendidikan.. mamaku dulu cerita, waktu kecil mamanya sempat melarang dia pergi sekolah, di suruh langsung nikah aja. Untunglah mamaku malah ngelawan, dia pergi ke kota lain dan akhirnya bersekolah di sana... Klo nggak, bisa2 saya malah nggak jadi ada.. hehehe..

    BalasHapus
  15. kebebasan berpendidikan. Sebab dengan demikian, wanita kini dapat membaca dan menulis. wanita dapat berkarya lewat jemari lentiknya. wanita dapat menuangkan segala ide lewat goresan tangannya ^^

    BalasHapus
  16. bersyukur banget deh hidup di negara merdeka dan bisa hidup dengan layak;)

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...