Rabu, 27 Maret 2013

Please Look After Mom

Judul: Please Look After Mom
Penulis: Kyung Sook Shin
Penerjemah: Tanti Lesmana
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun: 2011
Hlm: 296
ISBN: 9789792274868
Rated: 4/5
Sinopsis:
Ibu Tercinta:   
Sepasang suami-istri berangkat ke kota untuk mengunjungi anak-anak mereka yang telah dewasa. Sang suami bergegas naik ke gerbong kereta bawah tanah dan mengira istrinya mengikuti di belakangnya. Setelah melewati beberapa stasiun, barulah dia menyadari bahwa istrinya tak ada. Istrinya tertinggal di Stasiun Seoul.

Perempuan yang hilang itu tak kunjung ditemukan, dan keluarga yang kehilangan ibu/istri/ipar itu mesti mengatasi trauma akibat kejadian tersebut. Satu per satu mereka teringat hal-hal di masa lampau yang kini membuat mereka tersadar betapa pentingnya peran sang ibu bagi mereka; dan betapa sedikitnya mereka mengenal sosok sang ibu selama ini, perasaan-perasaannya, harapan-harapannya, dan mimpi-mimpinya.

Bayangkan, Ibu terpisah dari Ayah ketika mereka sedang bergegas menuju kereta karena stasiun Seoul sedang sangat ramai. Lalu Ibu menghilang begitu saja. Meskipun ayah segera kembali ke stasiun itu untuk mencari Ibu dengan kereta berikutnya, tapi Ibu tetap tidak bisa ditemukan dimanapun.

Kalang kabutlah anak-anak mereka. Marah, sedih, terluka dan saling menyalahkan. Tadinya Ayah dan Ibu akan merayakan ulang tahun mereka bersama-sama di Seoul dengan cucu serta anak-anaknya yang sudah dewasa. Tapi semua jadi berantakan.. mereka tidak habis pikir mengapa Ibu bisa menghilang? Mengapa Ibu tidak pergi ke kantor polisi atau menelepon salah satu dari mereka?

Cerita kemudian dikisahkan melalui POV yang berbeda-beda. Kadang dari Si Anak perempuan tertua, Anak sulung laki-laki, Ayah, dll. Semuanya mulai kembali mengingat-ingat kenangan lama akan Ibu mereka. Menggali-gali momen berharga. Mencari tahu apakah sebenarnya mereka benar-benar mengenal Ibu? 

Cerita ini, walaupun berfokus tentang Ibu, tapi Ibu kan selalu terhubung dengan suami dan anak-anaknya. Jadi secara keseluruhan buku ini menceritakan tentang keluarga. Bahwa nggak ada keluarga yang sempurna. Melalui menghilangnya Ibu, kita diajak untuk mengorek lembar demi lembar keluarga Ibu. 

Misalnya saja, si Ayah yang sempat kabur dengan wanita lain dan kurang menghormati istrinya. Anak lelaki sulung yang selalu mendapat beasiswa dan menjadi kebanggan Ibunya. Putri bungsunya yang selalu dan akan selalu jadi anak kesayangannya. Putri sulungnya penulis novel terkenal dan Ibu selalu bangga akan tulisannya meskipun itu tidak bisa membaca.

Setelah Ibu menghilang, barulah mereka menyadari bahwa sebenarnya mereka nggak tahu apapun tentang Ibu mereka. Buku ini mengajarkan dengan bahwa sesuatu terasa berharga ketika ia sudah hilang. Rasanya, hal-hal kecil tentang Ibu tiba-tiba saja jadi sangat berharga dan patut untuk di kenang, diresapi, dan dihargai. Bahwa setelah bertahun-tahun rupanya anak-anak mereka masih belum mengenal sosok sejati Ibunya. Bagi mereka selama ini Ibu itu.. ya seorang Ibu. 

Mereka nggak tahu bagaimana perasaan Ibu ketika harus memasak di dapur setiap hari untuk mereka. Mereka nggak tahu betapa bangganya Ibu ketika anak-anaknya mampu meraih hal sekecil apapun, entah itu rajin mencuci sepatunya sendiri atau sampai ketika berprestasi di sekolah. Mereka juga nggak tahu bahwa Ibu memaksa pulang ke rumah desa karena nggak tega melihat anak-anaknya harus tidur berhimpitan di ruang apartemen yang sempit.

Sudah sejak lama saya ingin membaca buku ini karena banyak sekali review bagus dari BBIers. Dan beruntunglah saya ketika mendapat pinjaman bukunya (ga modal). Saya... saya paling nggak tahan dengen genre ini. Saya nggak suka buku yang mengharu biru bikin sedih. Saya nggak tega.

Saya membawa buku ini kemana-mana. Cerita model begini paling nggak mungkin dibaca sekali duduk. Soalnya setiap ada hal-hal kecil tentang Ibu yang bikin saya mbrebes, saya putuskan berhenti baca saat itu. Setelah saya menguatkan hati, barus saya lanjutkan kembali. I just can't stand it, it was so saaaad *berlinang air mata*.

Meskipun begitu peralihan POV kurang halus dan nggak jelas karakter mana yang sedang bercerita. Selain itu saya agak kesulitan mengidentifikasi siapa nama si putri sulung atau putra sulung. It was just too difficult to address and differentiate between each POV.

Selama ini terjemahan Korea terasa nggak enak untuk dibaca, tapi buku yang satu ini lumayan luwes penerjemahannya. Mungkin karena diterjemahkan dari bahasa Inggris, bukan secara langsung dari bahasa Korea. Tapi menurut saya nggak masalah karena saya senang bisa menikmatinya tanpa harus kesal dengan grammar Korea yang berbelit-belit.




PS: Posting Bareng BBI dalam rangka event Baca Bareng BBI bulan Maret : Sastra Asia.

Untuk teman-teman BBI lain, yuk masukkan link review buku posting bareng kalian disini.
  • Sastra Asia - 27 Maret
  • Fantasy - 28 Maret

*silakan ambil kode jika ingin memasang daftar link posting bareng ini di post kalian
*submission saya buka sampai akhir Maret, yang telat masukin link masih bisa nyusul

26 komentar:

  1. Huwaaah. masukin Wishlist ah..

    BalasHapus
  2. haduuuh kalo yang sedih2 gitu aku juga suka nggak tahan ky :'( apalagi tentang mama, huhu

    BalasHapus
  3. aku juga kagak nahan kalao bukunya sedih melulu, kelar bacanya malah sering jadi nggak semangat. *Kangen emak di rumah

    BalasHapus
    Balasan
    1. haha... Yang harusnya kangen emak itu aku, yon..

      Btw, aku ga sukses baca buku ini. Ga begitu suka dengan gaya penulisannya

      Hapus
    2. Wah mas dion kan deket ya tinggal mampir gitu =))

      Hapus
  4. bukunya udah baca, kerennnnnnn :)

    BalasHapus
  5. Waahh... Korea ya? Ada KDrama nya ngga, Ky? #digethokBBIers

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, sayangnya bebas drama mba, soalnya settingnya sebagian besar setelah perang jd pada hidup susah gitu di pedasaan gitu

      Hapus
  6. Buku yang bikin nyesek. T___T

    BalasHapus
  7. Suka cerita tentang ibu. Covernya juga keren

    BalasHapus
  8. Aku punya buku ini di rumah, dari Mama masih ada sampai sekarang udah gak ada. Dan sampai sekarang masih takut mau mulai baca :( takut sedih. Hihihi. (Gampang mewek dan sekali mewek susah berenti soalnya :p)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Ndari ini bukunya bikin mewek bgt. Kalau jadi mau baca, jgn lupa siapin tisu pokoknya T.T

      Hapus
  9. ak nyesek banget baca ini, pengalaman pribadi juga jadi lebih kerasa sakitnya ditinggal ibu :(

    BalasHapus
  10. Covernya... menyejukkan :')

    BalasHapus
  11. errr, kayanya harus nyiapin tissue segepok ini mah, hiks hiks...

    BalasHapus
  12. bagus bukunya.. bikin berkaca2 :').. salam kenal ya Oky :)

    BalasHapus
  13. Wah, selama ini saya sering ragu beli atau pinjam buku ini. Hm..sekarnag wishlist saya nambah deh *bingung harus lega, atau sedih*
    Yah mudah2an masih bisa nemu buku ini..
    (^_^)9

    BalasHapus
  14. Baca buku ini pengen selalu peluk mama erat2 tiap hari.... :*

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...