Senin, 29 April 2013

Pecinan: Suara Hati Sang Wanita Tionghoa

Judul: Pecinan: Suara Hati Sang Wanita Tionghoa
Penulis: Ratna Indraswari Ibrahim
Penyunting: Elis W. dan A. Elwiq Pr
Penerbit: DivaPress
Tahun: Juli 2011
Hal: 246
ISBN: 9786029787153
Harga: IDR 35000, hadiah dari Dion @ Baca Biar Beken
Rated: 3.5/5
Sinopsis :
Pecinan:   
"Saat aku lahir, Papa memberikanku nama Tan Ling-Ling. Setelah dewasa, namaku menjadi Lely Kurniawati. Aku memang orang Indonesia keturunan Tionghoa." ,

***

Lely Kurniawati, gadis kecil yang selalu berada di antara toples-toples kue jualan orang tuanya merasa tidak memiliki siapa pun. Sampai kemudian, pada suatu hari, saat usianya beranjak dewasa, ia bertemu dengan Gunaldi, lelaki yang kemudian menjadi suaminya. Lelaki itu, bagi Lely, bukan hanya seorang suami. Tapi, lebih dari itu, sebab darinyalah dia merasa "ada" dan memiliki "sesuatu".

Sayang, kebahagiaan Lely tiba-tiba terhenti oleh sebuah kenyataan bahwa ternyata Gunaldi tidak cukup dengan satu cinta! Lantas, apa yang terjadi kemudian?

Dalam waktu yang bersamaan, Anggraeni, teman masa kecil Lely bertemu kembali. Ia pun mencoba berusaha membantunya dengan mencari kebenaran tersebut. Sayang, Anggraeni justru malah menemukan keraguan, baik terhadap apa yang dilakoni Lely maupun dirinya sendiri. Bahwa, kendati keduanya sama-sama datang dari keluarga etnis Cina, ternyata mereka memiliki perbedaan dalam memandang sisi kesetiaan dalam sebuah institusi perkawinan. Lalu...? Selanjutnya...?

Sungguh, sebuah novel yang sangat menarik. Membongkar sisi terdalam batin perempuan Tionghoa di Indonesia. Menyentuh, penuh kejutan, dan layak baca!

Anggraeni berasal dari keluarga peranakan Cina-Indonesia yang dibesarkan sebagai orang Indonesia. Tidak seperti teman masa kecilnya, si Lely yang keturunan Cina Totok dan dibesarkan dengan menganut tradisi-tradisi cina daratan. Pertemuan mereka kembali di Jakarta tahun 2002 yang tidak terduga akhirnya membawa Anggraeni menguak siapa sebenarnya Lely itu.

Lely meminta tolong kepada Anggraeni untuk menuliskan biography tentang dirinya. Mulailah Anggraeni dibawa menelusuri masa lalu, tahun-tahun 1960an Malang tempo dulu, Paris Van Javanya Indonesia. Masa-masa Kota Malang masih sejuk, nyaman dengan tatanan kota yang indah hasil desain arsitek Belanda, Herman Thomas Karsten.

Kisah hidup Lely rupanya tidak sesempurna yang Anggraeni bayangkan selama ini. Gadis kecil yang dulu berada di balik toples-toples ini rupanya mengalami diskriminasi gender sejak kecil. Ketika saudara-saudara lelaki Lely dijemput pulang sekolah naik becak, Lely harus pulang jalan kaki sendirian.

Ketika Anggraeni kecil bermain, lely harus membantu membuat kue-kue sejak pagi, berdagang seharian dan membungkus kue-kue lagi hingga larut. Ketika Anggraeni sibuk dengen hobi menulisnya, Lely terpaksa diam-diam les menjahit agar tidak diusir ayahnya. Rupanya budaya patriarki yang kental juga terjadi di keluarga Tionghoa pada tahun 1960an.

Tak hanya membahas mengenai diskriminasi gender, Ratna Indraswari Ibrahim juga mengangkat tema sejarah dan politik sebagai setting ketika mereka tumbuh besar sebagai orang Cina-Indonesia. Ketika Lely kelas 3 SMP, sekolahnya terpaksa ditutup semenjak peristiwa Gerakan 30 September. Akibatnya Lely harus putus sekolah.

"...Sekolah Tionghoa ditutup dan diambil alih. Aku tidak mengerti kenapa sekolah kami dituduh sebagai antek-antek Partai Komunis Indonesia. Seingatku, guru-guru tidak pernah mengajarkan tentang teori komunisme. Aku ingat guru sejarahku, Pak Han, menangis. Dia bilang pada kami, yang kuingat sampai kini, 'Aku kira kalian harus belajar dimana pun, dan aku bersumpah tidak pernah mengajarkan komunisme pada kalian. Apalagi, aku tidak merasa sebagai orang Cina, melainkan orang Indonesia.'" - Lely, p.44

Sementara Lely putus sekolah, Anggraeni yang bersekolah di SMP Negeri 3 Malang masih bisa melanjutkan pendidikan hingga perguruan tinggi karena ia berwarga negara Indonesia. Sedangkan Lely hanya bisa menangis karena tidak bisa terus sekolah. Sayang sekali sebagai keturunan Cina Totok, statusnya adalah sebagai warga negara asing.

Akibatnya Lely harus membantu orang tuanya berjualan di toko. Sementara itu Anggraeni, didesak ayahnya untuk merantau ke Jakarta karena ketidakstabilan politik.di Indonesia. Status mereka yang selalu tidak jelas akibat ketidakstabilan politik tergambar jelas di sepanjang perjalanan hidup mereka.

Selain peristiwa Gerakan 30 September, keturunan Cina juga merasa sangat tidak aman ketika peristiwa 1998 terjadi di Jakarta. Mungkin keputusan adik-adik Anggraeni untuk migrasi ke Australia sudah tepat. Ayahnya ingin jika terjadi hal genting terjadi dan status mereka sebagai orang Cina membahayakan, Anggraeni harus segera pindah ke luar negeri.


"Sejak peristiwa Gerakan 30 September, sekalipun kita warga negara Indonesia, kita tidak punya kepastian bisa tinggal terus di negeri ini. Makanya kamu dan adik-adikmu harus merantau ke Jakarta.Hanya kota itu yang paling gampang aksesnya untuk pergi ke negeri lain." p.23

Anggraeni, menskipun keturunan Cina tapi dari garis ayahnya masih ada keturunan Jawa, maka dari itu, wajahnya pun lebih Jawa daripada adik-adiknya yang sekarang merantau ke Australia.
"Kamu ingat sewaktu masih kanak-kanak dulu, kau digoda oleh saudara-saudaraku, 'Kamu anak Jawa atau Cina?' Dan dengan jengkel kamu membalas, 'Apakah kalian tidak tahu aku ini anak Indonesia? Aku hapal Pancasila!'" - Rahman, p.108

Sebagai anak dokter gigi, Anggraeni tidak dibesarkan untuk berdagang. Ketika besar ia disuruh belajar keras. Iapun menikah dengan orang Jawa dan menjadi dosen. Lain halnya dengan Lely. Setelah putus sekolah, di usia 17 tahun sudah menikah dengan Gunaldi dan membangun kehidupan dari nol dengan berdagang.

Sekarang Lely sudah kaya, berbeda dengan Anggraeni yang hanya seorang PNS. Namun kenapa Lely tidak tampak bahagia?


Tak beda dengan perempuan lainnya yang secara kultur masih berada di bawah laki-laki. Lely tumbuh besar untuk dinomorduakan oleh ayahnya, kemudian ketika sudah menikah ia pun sangat berbakti kepada suaminya.

Menurut saya Lely tak berbeda dengan perempuan Jawa lainnya. Sebagai perempuan ia sangat menjunjung tinggi harkat martabat suami, bahkan ketika ia direndahkan oleh keluarga suaminya sendiri, ia terima saja karena rasa hormatnya terhadap suami. Lely, dengan bakatnya berdagang bisa berdiri dan kaya atas usahanya sendiri, namun disis lain ia masih seorang istri, dan seorang perempuan yang hidupnya diabdikan untuk suami.

Berbeda dengan Anggraeni yang seorang aktivis perempuan, seorang feminis. Semakin ia menguak Lely, semakin ia paham tentang masalah Lely. Betapa berbeda cara pandang mereka berdua. Meskipun Anggraeni telah mapan tapi ia tetap mengejar pendidikan hingga jenjang S3, karena ia ingin menunjukkan pada anak-anaknya, bahwa perempuan seusianya ini masih memiliki impian untuk meraih tingkat pendidikan setinggi mungkin.

Konstruksi sosial mengenai bagaimana seorang perempuan harus bersikap tidak lepas dari budaya dan nilai-nilai yang ditanamkan dalam keluarga saat ia dibesarkan. Namun satu yang membedakan keduanya, yaitu akses terhadap pendidikan. Anggraeni yang dapat mengenyam pendidikan lebih lama tentu daripada Lely tentunya lebih berpandangan terbuka dan maka dari itu sanggup mendukung prinsip-prinsip feminisme. Berbeda jika dibandingkan dengan Lely yang sejak kecil diajarkan nilai-nilai untuk selalu menjungjung suami dalam rumah tangga.

Uniknya disini, kedua tokoh kita, Lely dan Anggraeni sama-sama perempuan keturunan Cina yang tinggal di Jawa. Meskipun disatu sisi mereka masih menganut adat Cina tapi sudah terasimilasi dengan budaya Jawa. Meskipun begitu, posisi perempuan, baik di Jawa maupun Cina rupanya tidak jauh beda. Sama-sama diatur oleh budaya patriakal.

Pada akhirnya, buku ini menyimpulkan bahwa apapun nilai-nilai yang di pegang perempuan, kita harus menghargai pilihan mereka. Selama mereka tidak merasa direndahkan dan tidak dianiaya, I think it's fine either way.. as long as you're happy.



PS: Buku ini untuk posting bareng BBI bulan April dengan tema Perempuan

23 komentar:

  1. Wah buku hadiah dariku ini *bangga

    #gagalkomentar

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihi, makasih ya mas Dion.

      Akhirnya buku yg jadi hadiah ulang tahunku 2012 lalu terbaca juga *maklum, tukang timbun*

      Hapus
  2. Ini lebih ke cerita diskriminasi terhadap warga keturunan Tionghoa ya. Kalo inget pas kerusuhan 1998 memang terasa banget betapa orang Tionghoa masih dibeda-bedakan di Indonesia. Nggak ngerti juga kenapa mereka jadi incaran, terutama perempuannya, padahal sebelum kerusuhan itu kayaknya hubungan masyarakat Tionghoa dan non Tionghoa baik2 aja.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar Na, sepanjang kisah diskriminasi terasa sekali

      Hapus
  3. "Masa-masa Kota Malang masih sejuk,"

    Ahahak, setelah 3 tahun kuliah di Tangerang/Jakarta, Malang itu surga, darling xD

    Di sini orang Tionghoa makmur-makmur. Saya ingat saya pernah minder sama anak-anak dari sekolah Katolik di Malang yang kebanyakan Chinese waktu olympiade matematika :3 Lumayan dekat juga dengan teman keturunan Tionghoa pas SMA, dia sering bicara masalah agama dengan saya, karena dia pingin jadi pendeta :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Malang indah banget. Udaranya itu loh segeeeeer. Sampai skg orang Cina asal Malang masih makmur ya? Soalnya di buku ini digambarkan orang Cina di Malang ini yg memutar roda perekonomian di Malang :D

      Hapus
    2. Udah pernah ke Malang juga kamu? /yay

      klo dibandingin sama Surabaya sih kalah, aku pikir orang China Surabaya yang paling joz.

      Hapus
  4. mmm..menarik, apakah dalam novel ini diungkapkan juga pergulatan batin masing-masing karakter, semakin curahan pikirin begitu jadi bukan sekedar kisah perjalanan hidup ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba, modelnya narasi 2 karakter ini

      Hapus
  5. kebetulan aku turunan Tiong Hua, untungnya udah hidup di zaman yang lebih open dan udah banyak asimilasi kultur. Kalau masalah diskriminasi, sejauh ini aku ketemunya cuma pas buat KTP, waktu itu kan aku mau pake nama Indonesia aja (ngga mau tambah marga) tapi tetap harus cantumkan marga di depan tapi ga ngaruh apa2 sih.

    Kalau soal budaya patriarki, kayanya kalau liat ini emang masih berlaku di Asia dan dunia pada umumnya. Negara maju dan modern macam US aja masih banyak kasusnya, apalagi Asia. Tapi yah intinya balik ke persepsi masihng-masing. Ortuku dalam bbrp hal terbuka tapi dalam bbrp hal masih cenderung kolot (makanya jadilah anaknya rebel)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hi Lin-Lin,
      Aku sendiri berteman dg bbrp keturunan cina di sekolah dan baik2 saja sama mereka. Kami ga saling mendiskriminasikan juga tapi memang kami ga pernah mendiskusikan hal2 yg sifatnya SARA sih :P

      Haha, rebel kayak gmn nih contohnya?

      Hapus
  6. hahaha, kang Dion pasang nama di mari

    BalasHapus
  7. waks, papaku dulu juga sekolah di sekolah cina, dan karna keturunan tionghoa, dianggap WNA, urus paspor indonesianya lamaaa banget, sampe kita lahir pun kita juga ga bisa punya paspor, sigh... sepertinya buku ini keren deh ky :) *mintahadiahjugadaridion*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sampai skg juga masih blm bisa bikin paspor papanya mba Astrid? Whyyyy?

      Hapus
    2. Papaku juga keturunan Tionghoa mbak. Untungnya setelah ganti nama jadi nama Indonesia nggak nemu masalah diskriminasi termasuk urus pasport, ktp, dll.

      Hapus
  8. Paris van Java bukannya Bandung ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tampaknya tahun 1960-180an Malang sempat menyandang nama Paris van Java mba, menurut penuturan penulis..

      Hapus
  9. Genre cerita yang saya suka. Tapi sayang, tidak mudah bagi saya memiliki buku ini karena saya di malaysia :(

    BalasHapus
  10. Bukunya bagus :O belum pernah baca buku yang tokohnya orang tionghoa. Blog oky keren, bisa ada tombol spoilernya :O (ngatrok)

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...