Senin, 03 Maret 2014

The Girl With The Dragon Tattoo

Judul: The Girl with the Dragon Tattoo
Penulis: Stieg Larsson
Penerjemah: Nurul Agustina
Penyunting: Nur Aini
Penerbit: Qanita
Tahun: January 2012
Hlm: 784
ISBN: 9786029225341
Rating: 4/5
Harga: IDR75000
Sinopsis:

TGWTDT:   
Harriet Vanger, putri salah satu keluarga paling berpengaruh di Swedia, hilang 40 tahun lalu.

Kasusnya tak terpecahkan. Tak ada mayat. Tak ada saksi. Tak ada bukti. Semua petunjuk mengarah ke jalan buntu.

Henrik Vanger, sang paman, yakin keponakannya itu dibunuh dan pelakunya adalah salah seorang keluarga Vanger. Ia menyewa Mikael Blomkvist, seorang jurnalis investigatif sekaligus pemilik majalah Millenium, untuk menyelidiki kasus Harriet.

Dalam investigasinya Blomkvist mendapat bantuan dari Lisbeth Salander, gadis punk asosial yang jenius dan memiliki memori fotografis serta keahlian hacking.

Mereka menemukan kaitan antara hilangnya Harriet dengan sejumlah kasus pembunuhan berantai yang tak terpecahkan. Berdua mereka berupaya menguak rahasia kelam keluarga Vanger yang hampir membuat nyawa Blomkvist hilang.

Pernah diterbitkan dengan judul yang sama pada tahun 2008 dengan cover yang berbeda.


Kita diajak berpetualang dengan seorang jurnalis kolom ekonomi dan bisnis yang sangat teguh dalam memegang prinsip etika jurnalisme. Karena prinsipnya itu ia berusaha mengungkap kasus penipuan dilakukan Wennerström Coorporation dan malah berakhir dijebak oleh Wennerström. Akibatnya kredibilitas dan karirnya hancur. Saat itulah tiba-tiba datang tawaran dari Henrik Vanger seorang konglomerat Swedia, yang memintanya untuk mengungkap kasus pembunuhan keponakannya, Harriet Vanger. Kasus yang tidak pernah terungkap selama 40 tahun lebih.

Akhirnya ia menerima tawaran tersebut dan tinggal di desa yang mayoritas tanahnya dimiliki keluarga Vanger. Kalau pernah lihat filmnya sih digambarkan satu pulau itu isinya rumah dan pondok-pondok yang ditinggali seluruh keluarga Vanger. Wow, kaya raya banget lah pokoknya, udah nggak satu kompleks lagi tapi satu pulau lho!

Cerita bergulir.. akhirnya Mikael dibantu oleh Lisbeth Salander yang super jenius tapi juga super ansos. She's just... weird. Weird, but brilliant. Long story short mereka mengumpulkan informasi, memetakan pola, memecahkan dan mengumpulkan kepingan puzzle yang berceceran dan hampir nggak ada sangkut pautnya. Semua itu akhirnya menguak sebuah rahasia yang sama sekali tak pernah kita bayangkan sebelumnya.

Maaf, saya sengaja nggak menceritakan plot secara mendetail karena jujur saja, buanyak dan puanjang buanget. Lagipula, bagi kalian yang malas baca buku tebal ini bisa langsung nonton filmnya, which IMO picturing the book pretty well. Apa-apaan ini saya malah nyaranin nggak baca bukunya *ditampar rame-rame*. Buat yang niat baca, saya akui buku ini sama sekali nggak membosankan kok, serius percaya deh. Terjemahannya enak dibaca, salut sama penerjemahnya.

Anyway, ada dua plot utama dalam buku ini yang dibagi menjadi 4 bagian. Pertama, plot konflik pribadi Mikael dengan Wennerström. Kedua, plot misteri lenyapnya Harriet. Ketiga, plot Lisbeth dengan aneka ketidaknormalan dan masalah dalam hidupnya. Kemudian keempat, misteri masa lalu keluarga Vanger yang akan kalian ketahui sendiri ketika kalian baca buku atau nonton filmnya.

Plot pertama, konflik pribadi Mikael dan hancurnya karirnya membuka cerita di buku ini yang kemudian melibatkan Lisbeth sebagai, hm apa ya istilahnya, semacam detektif swasta gitu. Kemudian masuk ke dalam keluarga Vanger yang menurut saya plot yang paling seru di buku ini, mulai dari mencari jejak hilangnya Harriet sampai akhirnya ketika terbuka masalah lain yang jauh lebih kotor. Nah, terakhir setelah Mikael mengungkap misteri lenyapnya Harriet akhirnya ketegangan berkurang dan agak antiklimaks.

Bagian terakhir ini berisi pembalasan dendam Mikael untuk mengungkap pelanggaran bisnis Wennerström Coorporation sekaligus mengembalikan nama baiknya dalam dunia jurnalistik. Menurut saya agak membosankan dan terlalu datar. Sayangnya, membosankan dan datar ini ngambil 1/3 bagian buku. Mungkin juga karena saya sudah pernah nonton filmnya dan sudah tahu bagaimana endingnya sehingga bagian akhir ini jadi nggak menarik.

No surprises since I've seen the movie both the original version and the Hollywood version. Anyway, what impressed me the most is the way the story was told in a very detailed manner. Kadang malah banyak detail nggak penting yang nggak sesuai dengan plot cerita, kayak bosnya Lisbeth yang fall in love with Lisbeth, menurut saya nggak ada hubungannya sama sekali sama kasus pembunuhan. Well, mungkin cuma dipakai untuk memperkuat karakter Lisbeth yang dingin dan ansos. 

Anyway, deskripsi ditulis dengan sudut pandang pengarang sebagai orang yang serba tahu. Jadi, terlepas dari misteri kasus 'pembunuhan' segala hal termasuk deskripsi penokohan karakter diceritakan panjang lebar. Saya rasa itu yang bikin buku ini jadi super tebal. Saya nggak tahu harus suka atau enggak suka dengan model buku seperti ini. Di satu sisi, saya sudah sangat terbiasa membaca novel-novel yang to-the-point dari sudut pandang orang pertama maupun sudut pandang orang ketiga yang penokohannya diperkuat oleh setiap tingkah laku, dialog dan adegan-adegan sesuai dengan plot sehingga kita bisa ambil kesimpulan sendiri bagaimana sebenarnya karakter dari tokoh tersebut. 

Sedangkan disini rasanya seperti digurui dan kadang muncul perasaan, "ah, saya nggak butuh tahu banget karakter tokoh ini, buang-buang waktu ajah sih." haha.. I know, I think I need to read this kind of books more so I don't have to sound so sarcastic like this. Tapi secara keseluruhan saya menikmati proses membaca buku ini. I don't stop for anything, soalnya udah lama banget nggak baca buku bantal, rasanya nyaman sekali baca satu buku tebal yang sukses bikin immersed like this.

Ups, almost forgot one thing. Buku ini Novel Dewasa. I watched it back in 2010 when I was just turn 17 and it was bleh.. Saya nyewa film 1, 2, dan 3 sekaligus (versi asli, bukan yang Hollywood). Amat sangat visual dan sangat dewasa, ah saya nggak berani menjelaskan detailnya disini. Saya nonton ketiga film ini dalam sehari. Bad idea. Ketika nonton film yang kedua saya sudah mulai mual dan masuk film ketiga saya sudah nggak tahan jadinya nggak nonton sampai tamat.

Filmnya Rated R for disturbing violent content including rape, grisly images, sexual material, nudity and language (imdb). See what I mean? Kalau perlu be 21+ before you read or even watch the movie!  Watch it at your own risk!

Film versi Hollywoodnya nggak separah versi Swedia, lebih halus deh dalam penyampaiannya tapi intinya sama aja. Dan IMO, lebih bagus dan real versi Swedianya. Bahkan aktornya pun lebih intense, saya lebih dapet karakter Lisbeth di versi Swedia. Lebih ngena. Keren lah aktingnya, Kalau di tanya serem mana buku sama filmnya, saya berani jawab serem filmnya karena lebih visual jadi huks, serem ah pokoknya. Jangan bilang saya nggak memperingatkan kalian lho ya. ;)

6 komentar:

  1. Aku juga lagi baca ini, Oky. Merasa diseret untuk pengin tahu "ada apa lagi setelah ini? Terus apa lagi? Bakal kayak gimana lagi?" Jenius tuh Stieg Larsson!

    BalasHapus
  2. Aku udah baca tapi belum nonton filmnya. Asli karena aku yakin scenenya bakal disturbing. Bab-bab pertama buku ini bosenin banget, tapi makin ke tengah makin bagus.

    Aku baru baca awal-awal buku kedua and voila, ngalor ngidul juga hahaha. Mungkin udah ciri khas penulisnya ya :P

    Mantap reviewnya, Oky!

    BalasHapus
  3. penasaran sama buku ini, tapi agak keder pas baca review2 yang membahas isinya sih :|
    jadi agak ragu mau baca novel ini.

    BalasHapus
  4. hmm ternyata bener ya bab-bab awalnya emang bosenin. awalnya sempet ragu mau ngelanjutin baca apa enggak, tapi setelah baca review ini kayaknya bakal aku lanjutin deh hehe

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...