Senin, 04 Agustus 2014

Remember When

Judul: Remember When
Penulis: Winna Efendi
Penyunting: Samira & Gita Romadhona
Penerbit: Gagas Media
Hlm: 252
Tahun: 2011
ISBN: 9797804879
Harga: IDR52000
Rating: 3/5
Sinopsis:
Remember When:   
Apa pun yang kau katakan, bagaimanapun kau menolaknya, cinta akan tetap berada di sana, menunggumu mengakui keberadaannya.

Bagi kita, senja selalu sempurna; bukankah sia-sia jika menggenapkan warnanya? Seperti kisahmu, kau dan dia, juga kisahku, aku dan lelakiku. Tak ada bagian yang perlu kita ubah. Tak ada sela yang harus kita isi. Bukankah takdir kita sudah jelas?

Lalu, saat kau berkata, "Aku mencintaimu", aku merasa senja tak lagi membawa cerita bahagia. Mungkinkah kata-katamu itu ambigu? Atau, aku saja yang menganggapnya terlalu saru?

"Aku mencintaimu," katamu. Mengertikah kau apa artinya? Mengertikah kau kalau kita tak pernah bisa berada dalam cerita yang sama, dengan senja yang sewarna?

Takdir kita sudah jelas. Kau, aku, tahu itu

Adrian, Gia, Freya dan Moses. Adrian dan Gia yang populer menjadi pasangan sempurna di sekolah. Pasangan yang dikagumi dan bikin iri. Freya dan Moses, kedua siswa paling pintar juga nggak kalah terkenalnya dengan mereka walau memang hubungan mereka tetap di bawah radar dan batas-batas kewajaran. 

Mereka berempat berteman. Tapi kemudian Adrian mulai menyadari perasaan yang tak seharusnya kepada Freya, padahal ia sudah punya Gia. Lalu Adrian harus bagaimana? Bisakah seseorang tiba-tiba berhenti menyukai? Bukan bosan, bukan nggak sayang lagi, tapi perasaannya terhadap Gia sudah berbeda.

Sebagai cewek, Freya juga ingin di sayang dan di manja pacarnya, lalu melakukan hal-hal romantis berdua seperti jutaan cewek lainnya. Apa itu salah? Ketika perasaannya untuk Adrian juga berkembang, bagaimana Freya tega melakukan hal itu pada Gia, sahabatnya? Terlebih lagi pada Moses, pacarnya?

Saya tak pernah tertarik baca buku Winna Efendi walau banyak sekali teman-teman yang merekomendasikannya. Entah kenapa ya. Saya mulai baca buku ini pun di momen kehidupan saya yang paling bosan dan butuh bacaan ringan. Bacaan yang sudah diakui kualitasnya. Saya rasa, buku Winna bisa jadi pilihan tepat, selain karena banyak penggemarnya, bukunya pun sudah difilmkan.

Akhirnya, saya beli Remember When dan berniat membeli buku-buku Winna lainnya. Karena saya sudah teryakinkan bahwa bukunya bagus. Namun, begitu baca buku ini pun perasaan saya tetap sama seperti sebelum saya baca. It's not much. Saya masih tidak tertarik. Mungkin cuma masalah selera. Mungkin juga tema yang dibahas sudah bukan concern saya lagi. Mungkin juga karena ini baru buku pertamanya Winna yang saya baca. Mungkin saya akan lebih menyukai buku-bukunya yang lain.

Saya akui plot, alur, dan penokohannya mantab. Apalagi gaya bahasanya. Tidak ada yang kurang. Saya hanya kurang puas dengan endingnya. Saya rasa Remember When ini punya potensi lebih untuk diperdalam lagi. Atau dipanjangin lagi. Atau endingnya diganti. Saya kurang puas dengan endingnya, tapi mungkin, sekali lagi, ini hanya masalah selera saja.

Tapi diluar ketidakpuasan saya terhadap Remember When, saya suka bagaimana Winna menceritakan topik dan kehidupan dinamis masa SMA. Akan selalu ada siswa/siswi populer yang disukai semua orang, yang kaya, yang gaul, yang pintar, yang eksis, yang berprestasi, yang pendiam, yang biasa-biasa saja. Jelas, saat SMA saya masuk kategori terakhir.

Akan selalu ada getar-getar ledakan cinta monyet untuk segelintir orang. Dan untuk sebagian lainnya lebih disibukkan dengan kisah pertemanan yang pasang surut. Atau rumitnya mengerjakan tugas disela waktu-waktu les dan ekstrakurikuler. Begitu juga yang Winna ceritakan disini. Bagaimana Adrian, dkk menghabiskan waktu mereka untuk pacaran, hang out bareng, ngerjain tugas, disela-sela kesibukan aktivitas basket dan OSIS.

Tapi Winna tak hanya menceritakan hal-hal biasa itu. Ia ingin menyebarkan pesan, bahwa kehidupan yang tadinya sempurna bisa berubah dalam sekejap. Bahwa perasaan bisa saja hilang, tergantikan oleh ia yang paling mengerti dan memahami dirinya apa adanya. Bahwa kesetiaan itu tidak hanya berlaku dalam hubungan cinta, tapi juga persahabatan.

Bahwa seseorang harus mau menerima kenyataan, memaafkan diri sendiri dan orang lain, agar bisa move on. Kita semua tidak bisa tinggal di masa lalu. Karena kehidupan kita terus berjalan. Kita mendewasa dan untuk itu kita harus belajar menerima atau let go. Ingat, pada suatu ketika, kita pernah tertawa bersama..

3 komentar:

  1. I know that feeling, Mbak Oky. Parahnya, saya hampir tidak bisa get into this book sama sekali (kecuali saat Moses dikhiniati. Saya sempat merasa marah.) Dan saya rasa, bukan karena usia saya yang udah jauh dari teen age :) Tiba-tiba saja saya merasa, bahwa teenlit Indonesia harus mengalami revolusi dalam beberapa aspek. Gaya penceritaan dan eksplorasi konflik. Meski buku ini nggak bisa juga jadi cermin tentang teenlit Indonesia. Tapi setuju sama Mbak Oky soal pesan ceritanya :)

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...