Senin, 08 Desember 2014

The Kite Runner

Judul: The Kite Runner
Penulis: Khaled Hosseini
Penerjemah: Berliani M. Nugrahani
Penyunting: Pangestuningsih
Proofreader: Herlina Sitorus
Penerbit: Qanita
ISBN: 9786028579339
Hlm: 492
Tahun: 2013 (Gold Edition)
Rating: 5/5
Beli di: tokobuku.getscoop.com
Sinopsis:
THE KITE RUNNER:   
Aku memiliki satu kesempatan terakhir untuk mengambil keputusan, untuk menentukan apa jadinya diriku. Aku bisa melangkah memasuki gang itu, membela Hassan dan menerima apa pun yang mungkin menimpaku.

Atau, aku bisa melarikan diri.
Akhirnya, aku melarikan diri.

Amir telah mengkhianati Hassan, satu-satunya sahabatnya, saudaranya. Rasa bersalah menghantuinya. Menyingkirkan Hassan dari kehidupannya adalah pilihan tersulit yang harus diambil Amir.

Namun setelah Hassan pergi, tak ada lagi yang tersisa dari masa kecil Amir. Seperti layang-layang putus, sebagian diri Amir terbawa terbang bersama angin. Tetapi, masa lalu yang telah terkubur dalam-dalam, senantiasa menyeruak kembali. Hadir membawa luka-luka lama. Dan seperti rapuhnya layang-layang, tak kuasa menahan badai, Amir harus menghadapi kenangannya yang mewujud kembali.

The Kite Runner adalah sebuah kisah penuh kekuatan tentang persaudaraan, kasih sayang, pengkhianatan, dan penderitaan. Khaled Hosseini dengan brilian menghadirkan sisi-sisi lain Afghanistan, negeri indah yang hingga kini masih menyimpan duka. Di tengah belantara puing di Kota Kabul, akankah Amir menemukan kebahagiaan yang kelak menyapu kesedihannya?

***

"Hosseini dengan piawai menampilkan Afghanistan sebagai bangsa yang sedang dalam pencarian… begitu menyentuh."
—Kompas

"Punya segala untuk menyihir publik … diceritakan sangat indah, memesona … digarap sangat bagus … karya genius."
—Matabaca

"Sangat menyentuh … ceritanya kuat … tak ada karakter yang sia-sia. Buku yang memorable sepanjang masa."
—Koran Tempo

"Hosseini dengan piawai menampilkan Afghanistan sebagai bangsa yang sedang dalam pencarian … begitu menyentuh."
—Kompas

"Bertenaga dan sangat menusuk kalbu."
—The Jakarta Post

"Hosseini amat teliti menyuguhkan elemen-elemen drama kemanusiaan, penebusan dosa, dan pencarian martabat dalam sebuah panggung sosial politik yang terus berubah cepat."
—Tempo

"Sangat mengharukan, detail, serta jujur … memberikan perspektif yang berbeda."
—Djakarta Magazine

Pertama dan terakhir kali saya membaca buku ini sekitar tahun 2008, saya baca versi Bahasa Inggrisnya, dipinjami teman. Sebenernya dipaksa sih, persuasi dari teman buku ini ceritanya bagus dan bahasa inggrisnya nggak berat. Yah, akhirnya dengan agak terpaksa saya menerima pinjamannya. Tapi rupanya itu jadi keputusan terbaik yang pernah saya lakukan. 

Buku ini saking bagusnya langsung habis saya baca dalam sekali duduk. Saya baca diam-diam di dalam kamar sampai jam 3 pagi. Ditutupi selimut dan pakai penerangan senter sambil sesenggukan nahan nangis karena kisahnya yang mengharukan. Setelah itu bukunya saya kembalikan dan saya susah move on sampai sekarang.

Dulu terjemahannya masih belum diterbitkan. Begitu sudah diterbitkan, saya yang susah move on selalu promosiin buku ini ke teman-teman. Bahkan berkali-kali saya jadikan hadiah untuk teman. Tapi lucunya, saya sendiri sampai sekarang belum punya bukunya. Akhirnya kemarin saya putuskan beli di toko buku scoop karena ada sale.

Untuk kedua kalinya saya baca buku ini. Meskipun terasa perbedaan diksi antara versi asli dengan terjemahan, tapi saya tetap menangis di adegan yang sama dan untuk kedua kalinya saya beri rating sempurna. It's my favourite book!

Untuk jalan ceritanya, saya yakin sudah banyak review yang beredar. Jadi saya akan bahas tema-tema lain yang ditulis dalam buku ini. Tidak diragukan lagi Khaled Hosseini memang seorang pencerita yang handal. Tak heran buku ini bestseller dan masuk buku klasik karena berkesan sepanjang masa. 

Hassan membalas senyumku. Hanya saja, senyumnya terlihat tulus. "Aku tahu," katanya. Dan itulah yang dilakukan oleh orang-orang yang serius dengan setiap ucapannya. Mereka menganggap orang lain juga begitu. ~p.81

Karakter yang diangkat, Amir yang pengecut dan Hassan yang setia. Amir seorang Pashtun, anak saudagar kaya raya, ayahnya dan keturunannya adalah orang terhormat dan sangat dihormati oleh orang-orang karena keberanian dan kepribadiannya. Hassan, seorang Hazara, kaum budak, menjadi pembantu di rumah Amir. Umur mereka berbeda setahun. Mereka bermain dan tumbuh besar bersama.

Amir: "Anehnya, aku pun tak pernah berpikiran bahwa Hassan adalah temanku. [...] Pada akhirnya, aku adalah seorang Pashtun dan dia seorang Hazara, aku seorang Sunni dan dia seorang Syi'ah, dan tidak akan ada yang bisa mengubahnya. Tidak ada." ~p43

Amir tumbuh menjadi anak lelaki yang kurang kasih sayang. Dia berusaha keras untuk mendapat kasih sayang ayahnya. Kadang ia membenci Hassan karena ayahnya lebih memperhatikan Hassan. Padahal Hassan menyayangi Amir melebihi siapa pun. Saya terenyuh melihat besarnya kesetiaan Hassan kepada Amir dan saya membenci kepengecutan Amir.

"Yang benar saja? Kau mau melakukannya?"

"Melakukan apa?"

"Makan tanah kalau aku menyuruhmu."

"Kalau kau menyuruhku, aku akan melakukannya. [...] Tapi aku penasaran. Mungkinkah kau menyuruhku melakukan hal semacam itu, Amir agha?" ~p.80-81
Saya lupa bahwa Amir masih kecil saat ia mengkhianati Hassan. Tapi Hassan pun juga masih kecil saat ia memegang teguh kesetiaannya pada Amir. Lalu kenapa Amir tidak bisa melakukan hal yang sama seperti Hassan? Rasa bersalahnya itu yang kemudian memotivasi Amir melakukan hal-hal di paruh kedua buku ini (read it yourself).

Hassan tahu. [...] Dia tahu bahwa aku telah mengkhianatinya dan dia tetap menyelamatkanku sekali lagi, mungkin untuk yang terakhir kalinya. ~p.146

Khaled menyuguhkan tema-tema kultural dan humanis. Tanpanya, saya tidak akan pernah tahu apa perbedaan islam mazhab Sunni dan Syi'ah. Mengapa kaum Hazara diperlakukan dengan buruk dan menjadi warga kelas dua oleh kaum Pashtun. Padahal di mata Allah semua makhluknya setara.

Khaled menyuguhkan Afghanistan 30 tahun yang lalu. Saat masih berada dalam masa kejayaan monarki. Sebuah negara yang indah, aman, berbudaya dan damai. Berbeda jauh dengan pemberitaan media massa terkait Afghanistan yang saya baca sekarang. 

Afghanistan dalam masa jayanya, tidak berbeda seperti negara-negara damai lainnya. Semua itu berubah ketika negara api menyerang.. Kabul setelah diduduki Taliban. Masa kecilnya yang indah di Kabul sekarang tinggal reruntuhan dan kemiskinan. Pengemis tua yang Amir temui di pinggir jalan dulunya adalah seorang dosen, teman ibunya.

Dalam buku The Kite Runner, Khaled menggambarkan bahwa manusia mampu melakukan hal-hal tidak manusiawi terhadap manusia lain. Hilangnya stabilitas nasional karena sekelompok kaum yang merasa dirinya lebih mulia dari kaum lain.

"Mereka tidak melakukan apa pun kecuali menghitung butiran tasbih dan memamerkan hafalan isi kitab yang ditulis dalam bahasa yang tidak mereka pahami. Kuharap Tuhan melindungi kita semua jika suatu saat nanti Afghanistan jatuh ke tangan mereka." ~p.359

Salah satu karakter favorit saya selain Hassan adalah ayah Amir, Baba. Meskipun seorang muslim, tapi pandangannya sangat liberal. Sebenarnya tak jauh beda dengan mayoritas muslim di Indonesia. Dalam buku ini pula saya baru mengerti bahwa Afghanistan itu jauh dari Arab. Sama saja seperti orang Indonesia belajar membaca Alquran. Bagi mereka, bahasa arab pun tampak seperti bahasa eksotis. 

Amir yang memang sejak kecil tumbuh besar diasuh seorang ayah yang liberal, lalu melanjutkan masa dewasa di Amerika sudah melupakan bagaimana caranya solat. Melalui perjalanan Amir, Khaled Hosseini pun menggambarkan bahwa teguran dari Allah itu keras. Tapi Dia hanya mengingatkan orang-orang yang Dia sayangi. Hidayahnya turun kepada siapa saja, kapan pun dan dimana pun.

Ah, banyak sekali isu-isu dalam The Kite Runner yang tidak akan habis saya bahas disini. Banyak pesan moral yang bisa dipetik. Segala aspek kehidupan diceritakan dengan apik. Kalau teman-teman penasaran dengan indahnya Kabul pada masa kejayaannya, langsung nonton filmnya saja. Saya sudah nonton dan filmnya pun tak kalah indah. 

Tapi saya lebih suka dengan bukunya karena bukunya mampu menyentuh lebih dalam daripada permukaan yang muncul di film. Tidak ada satupun karakter yang membosankan. Bahkan sampai akhir, Khaled masih mampu memainkan twist yang tak terduga. Akhir kata, it's still be the best book ever. A fenomenal 5 stars out of 5!

16 komentar:

  1. Aku baca buku ini juga tahun 2008-an. Sedih sih, tapi yang lebih sedih itu A Thousand Splendid Suns. Udah baca belum, Ky? Mantap reviewnya, Oky. Kalo aku nggak sampe hati quote bagian-bagian yang menghancurkan hati (duh bahasanya...)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Belum baca mba. Masih aku masukin ke wishlist.. hehe
      Makasih Mba Citra, duh jadi inget aku belum sempat balas emailnya mba citra kemarin..
      Haha, aku juga quotenya karena pengen ngasih poin yg pengen aku bahas. Hiks, banyak bener quote yg bikin sedih..

      Hapus
  2. Good review mbak.. Aku baca buku ini tahun 2007. Dan nangis waktu Hasan dan ayahnya pergi dr rumah Amir karena dituduh mencuri. Salam kenal sist :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hal, salam kenal juga. Thanks udah mampir kemari :)
      Iyaaa, itu salah satu adegan yg selalu bikin aku nangis T.T

      Hapus
  3. Ini buku favoritku juga. Haunting banget. Sesek bacanya :)

    BalasHapus
  4. Wah, jadi pengin baca lagi buku ini. Aku beli terjemahan buku ini tahun 2010. Dan buku ini masih jadi buku terfavoritku dari semua buku sampai sekarang. Saya selalu ngerekomendasiin buku ini ke teman-teman yang lagi nyari bacaan bagus, atau baru mau belajar jadi pembaca fiksi ^_^
    Saya kagum dengan cara Khaled Hossaini menciptakan pembalikan takdir untuk Amir, juga dengan bahasanya yang sederhana tapi menggugah. Saya akan selalu menyukai buku ini, untuk keseribu kalinya! ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Thank you atas komentarnya. Yup, meskipun buku ini ditulis orang muslim dan tidak secara memaksa mendoktrin pembacanya mengenai islam, tapi banyak sekali unsur2 al-quran dan islam yg masuk disini. Khaled Hosseini sukses menjelaskan janji Allah bahwa kebaikan apapun sebesar biji jagung, akan mendapat balasan. Kejahatan apapun sebesar biji jagung, juga akan dapat balasan. Intinya, apa yang kita perbuat, Allah akan membalasnya. Tapi hebatnya dia pun memasukkan pandangan liberal ya (malah banyak banget), terkait tingkah orang2 muslim yg mengaku islam tapi malah melakukan hal-hal yg tidak islami, kayak Taliban itu.

      "For you, a thousands time."

      Hapus
  5. Udah lama buku ini masuk wishlistku tapi belum kesampaian juga</3 setelah baca review kak oky jadi malah menggebu-gebu pengen baca hahaha. Wah kak ayok yang A thousand splendid suns juga dibaca kak, yang pasti gak kalah menggugah hati :')

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hi salam kenal. Thanks for visiting my blog. Well, you SHOULD read this. Not ASAP, but eventually you need to read this at least once in your life. It really changes your perspective.

      Yes, saya juga rencananya mau baca A thousand splendid suns. Bahkan sudah punya bukunya sejak 2012, masih segel, lalu saya jual ke seorang teman karena dia pengen koleksi dan sudah ga terbit dipasaran. Ya wes, daripada nganggur nggak kebaca, mending buat dia. Sekalian beramal (Dan dapat duit haha #eh).

      Saya berencana mau beli buku english edt aja. Karena kok beneran susah nemu yg jual versi Ind. Atau mungkin saya baca ebooknya aja deh. Apapun itu, saya memang akan review buku-buku Hosseini lainnya.

      Buset deh, mau ngomong bakal ngereview aja segini panjangnya. Hahaha.

      Hapus
  6. Betul sekali mbak. ini adalah novel pertama yang membuatku menitikkan air mata.
    suka banget sama karakter hassan yang sangat setia kepada amir. bahkan, kata pertama yang hassan ucapkan sewaktu masih kecil dan mulai berbicara adalah 'amir'.
    aku juga suka merekomendasikan novel ini ke teman-teman, meskipun aku belum punya, karena dulu bacanya minjem di perpustakaan umum kota. bahkan, aku menggolongkan the kite runner sebagai 'novel yang wajib dibaca sebelum meninggal', karena ceritanya yang sarat akan nilai-nilai baik kehidupan.
    selama ini aku juga sulit nyari novel kedua khaled, yaitu a thousand splendid suns. kalo yang versi ebooknya udah punya, tapi belum dibaca. sedangkan yang novel ke-tiganya yaitu and the mounthain echoed, aku udah punya tapi belum sempet baca. rencananya mau baca yang novel kedua dulu sih, hehe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayo tos dulu! *Seneng ketemu sesama pecinta karya KH

      Iya, yg A Thousand Splendid Suns blm cetak ulang lagi kayaknya. Saranku, kamu harus koleksi buku2 KH. Aku juga blm sempat baca novel2nya yg lain sih, but definitely worth reading

      Hapus
    2. toss!

      Iya nih harus dikoleksi buku-bukunya Khaled, soalnya cocok banget buat dibaca-baca ulang. the kite runner aja udah kayak gitu kerennya, mungkin yang lain bakal lebih keren.. :D

      Hapus
  7. Sy baca buku ini sekitar th 2013 lalu, setiap lembarnya ada air mata yg mengalir, dan karena buku ini cukup tebal, terbayangkan brp banyak air mata yg harus sy keluarkan...sy sampai dehidrasi mata dibuatnya

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...