Kamis, 12 Februari 2015

Matched

Judul: Matched (Matched #1)
Penulis: Ally Condie
Penerjemah: Yohana Yuni
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun: Juli 2012
Hlm: 384
ISBN: 9789792286007
Rating: 3.5/5
Sinopsis:
MATCHED:   
Dalam masyarakat ini, Administrator Institusi yang menentukan:
Siapa yang kaucintai.
Di mana kau bekerja.
Kapan ajalmu menjemput.

Selama ini, Cassia selalu memercayai pilihan mereka. Bukan hal yang sulit sebagai balasan atas kehidupan yang panjang, pekerjaan yang sempurna, serta pasangan yang ideal. Dan ketika wajah Xander, sahabatnya, muncul di layar Penentuan Pasangan, Cassia menyadari sepenuhnya bahwa pemuda itulah belahan jiwanya... hingga dia melihat wajah lain berkelebat sebelum layar berubah gelap. Kini Cassia dihadapkan pada pilihan yang mustahil baginya: antara Xander dan Ky, antara satu-satunya kehidupan yang selama ini dikenalnya dan jalan yang belum pernah berani ditempuh siapa pun––antara kesempurnaan dan hasrat.

Cassia tinggal di komunitas yang sempurna. Institusi mereka sempurna. Segalanya tersistematisasi dengan sempurna. Perjamuan pasangannya pun akan menjamin ia mendapatkan pasangan yang sempurna. Ia percaya bahwa Institusi telah memilihkan pasangan yang akan ia cintai, sebagaimana orangtuanya yang saling mencintai selayaknya pasangan sempurna lainnya.

Tapi kenapa justru wajah Ky yang muncul pada tabletnya dan bukannya Xander. Administrator menyatakan telah terjadi kesalahan dan pasangannya tetaplah Xander. Lagipula, Ky seorang Aberasi, itu artinya ia warga negara kelas dua yang tidak akan pernah bisa punya pasangan. 

Cassia penasaran. Memegang nasihat kakeknya, bahwa ia berbeda dari orang lain, bahwa ia mampu menanggung hal berat, bahwa tidak apa-apa merasa ingin tahu, Cassia pun mencari tahu tentang Ky. Menjadi partner hiking Ky membuatnya mendapatkan kesempatan lebih dekat. Tapi bagaimana dengan Xander? Mampukah ia mengkhianati sahabat masa kecilnya, sekaligus pasangannya yang sah?

Bersama Ky, ia mulai melihat institusi dalam sudut pandang yang berbeda. Cassia yang awalnya percaya institusinya sempurna kini mulai mempertanyakan banyak hal. Kenapa artefak-artefaknya diambil, apa fungsi tabung merah itu, kenapa kaum aberasi berbeda, kenapa semua lansia akan meninggal di usia 80 tahun?

Matched merupakan buku pertama dari trilogy Matched. Jadi saya tidak begitu heran ketika jalan ceritanya masih lempeng-lempeng aja. Kisah lebih fokus pada Cassia dan cinta segitiganya. Tentang keluarga kecilnya, tentang bagaimana perasaannya terhadap Ky berkembang padahal ia juga mencintai Xander.

Kemudian perlahan kita diajak melihat dunia Cassia lebih luas. Ky dan Xander, kedua teman masa kecilnya yang sudah lebih dulu mampu melihat jauh, membantu Cassia keluar dari tempurungnya. Bersama Cassia, kita dapat melihat bahwa negara mereka yang sempurna tidak sepenuhnya sempurna. Warga mereka dilindungi sedemikian rupa, namun diatur menjadi passive layaknya kerbau dicocok hidungnya. Ada harga yang harus mereka bayar untuk segala kesempurnaan itu, yaitu hilangnya kebebasan menentukan pilihan sendiri.

Novel dystopia selalu menyuarakan kritik sosial yang kita alami. Kalau seri Uglies melontarkan kitik terhadap komunitas yang sangat menhargai penampilan dibandingkan hal lainnya, saya bisa relate dengan kondisi sosial kita saat ini, terutama dengan maraknya operasi plastik dan betapa pentingnya penampilan dan barang branded yang kita miliki dalam menentukan value kita di mata orang lain. Hunger Games pun sama. Tapi untuk Matched, menjadi kritik sosial yang mana, saya belum begitu mengerti. Sepertinya saya harus lebih banyak membaca dan menganalisis berita global.

Anyway saya menikmati Matched, penulis sukses membangun suasana 'Institusi' dan segala aturannya yang mengontrol ketat dengan baik. Saya tidak sabar segera memasuki petualangan Cassia di buku selanjutnya. Saya harap akan ada lebih banyak aksi dan petualangan yang seru-seru dalam Crossed (Matched #2). Dan walaupun banyak tim #KyCassia saya lebih mendukung #XanderCassia.


***

Review ini saya tulis dalam rangka Reading Challenge: 
Lucky No.15 RC untuk kategori One Word Only:



One Word Only!: Read a book that only has one word for its title (number is allowed as long as it’s only consisted of one word, e.g: 1, 2, 11)

My review for this series:
1. Matched
2. Crossed
3. Reached

25 komentar:

  1. Tahun-tahun sebelumnya aku demen banget baca distopia yang berseries sekarang nggak suka lagi >.< ceritanya gitu-gitu aja, hiks... eh kecuali The Selection.. masih nungguin The One diterjemahin sama Bentang

    *maaf ya Ky jadi curcol :p*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wkwkwk, Aku juga punya The Selection beli pas baru banget terbit. Sampai skg malah blm dibaca *penimbun* Bagus banget ya the selection? Wajib baca kalo gitu

      Hapus
    2. kalau bagiku sih The Selection agak kayak guilty pleasure gitu. Di satu sisi gemes sama tingkah si America Singer, tapi toh 3 buku bisa tamat dalam dua hari. Dan sekarang lagi nunggu buku keempatnya wakakaka

      Hapus
    3. Hah, sudah mau ada buku ke-4 nya ajah. Jadi totalnya mau dibikin berapa seri?

      Hapus
    4. Aku juga jadi demen dystopia, nih, Kak. Kok kayaknya Matched ini seruuuu! :D
      Aku udah baca The Selection. The Elite masih nganggur. Hihi. Jadi sebenarnya The Selection Series (dengan sudut pandang America Singer) ada 3 buku, Kak. Buku lain, The Queen, The Prince, The Guard dari sudut pandang Ratu, Pangeran Maxon, sama Aspen. Hihi. Kalo nggak salah malah masih ada yang lain selain tiga itu. Tapi kayaknya ceritanya beda dari trilogi the Selection. Soalnya kalo The Selection kan kayak bagian #1, #2, #3. Nah kalo The Queen, The Prince sama The Guard itu bagian #0.4, #0.5, #2.5... Dan ada juga The Favorite sama The Heir dari sudut pandangnya Marlee.

      Maaf yaa, Kak, kalo out of topic. :3 *ngacir*

      Hapus
    5. Gpp say, kan aku emang nanyain soal The Selection. Thanks ya infonya :D

      Hapus
  2. Ide dasarnya ini kayak idenya 1984-nya George Orwell, salah satu eyangnya dystopia, yakni mengatur kehidupan manusia hingga ke detail-detailnya hingga si manusia ini tak lagi memiliki privasi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kan memang dystopia bahasannya begitu, kontrol penuh negara, no privacy ^^;

      Hapus
  3. Oh ini toh contohnya genre dystopia *maklum kudet banget* Dan sepertinya bakal 'not my genre' -_- Udah belibet duluan liat ceritanya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wakakaka... it's okay. Selera masing2 yaa :)

      Hapus
    2. kya, saya juga baru tau genre ini ternyata gini, hahaha. Kirain lebih fantasy, tapi ternyata ada semacam pemerintahan dan politik ya di dalamnya :3

      Hapus
    3. Yup, dystopia semuanya punya plot yang lebih kompleks dan based on reality dibanding fantasy :D

      Hapus
  4. Entah kenapa, aku malah bosen sama buku yang ini mbak. Padahal aku demen sama dystopia mbak, cuman alur buku ini malah bikin aku ngantuk. Eh aku setuju sama mbak maya, aku juga lagi nungguin the heirs, buku ke 4 nya The Selection. Lebih enak yang series selection daripada buku ini mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku juga bosen sih sebenernya karena alurnya lambaaaat bgt ya. Tapi entah kenapa, aku suka sama gaya bahasa dan diksi penulisnya. Jadinya aku bertahan *walau gregetan

      Waw waw, aku jadi makin pengen segera baca buku The Selection yg sudah tertumbun berbulan2 itu.

      Hapus
  5. Aku awam juga sih sama genre dystopia. Tapi aku pengen nanya, segala hal kan diatur ma administrasi intitusi~~, kalo dilanggar apa ada hukumannya gitu ? ^__^))">

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, kalo dilanggar jelas ada konsekuensinya. Ga mesti dipenjara/dihukum mati, tapi konsekuensinya memang berat dan biasanya yg kena keluarga atau org terdekat jg. Jadi kontrolnya ketat bgt

      Hapus
  6. Kalau menonton film dengan jalan cerita serupa, masih bisa dinikmati. Tapi kalau baca bukunya, rasanya berat banget.Alasannya sederhana, terlalu mengada-ada. Saya masih ingat ketika membaca buku Delirium by Baron ... Benar-benar sulit membayangkan karakter dan tempatnya. Akhirnya yang saya nikmati hanya dialognya saja. Makanya, saya masih menghindari bacaan yang kelewat fiksi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terlalu mengada-ada, ya. Mungkin memang bukan seleranya :D
      Anyway, aku sendiri juga ga begitu suka delirium. Masih lebih bagus Uglies series ^^

      Hapus
  7. Dulu nemu novel ini di obralan Gramedia Mal Balekota Tangerang. Tapi, nggak jadi beli karena duitku kurang. Padahal, cuma sepuluh rebu. Hahaha. Pas baca sinopsisnya aku cukup tertarik. Namun, jujur aja pas baca sinopsis Matched dan baca review ini, Matched mengingatkanku pada Delirium-nya Lauren Oliver. Delirium kurating tiga bintang di Goodreads. Menurutku, Delirium masih kurang di worldbuilding-nya. Padahal, premisnya udah bagus. Yah, kalau ada rejeki, nanti aku mau baca Matched dah. Penasaran aja segimana "mirip"-nya sama Delirium.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Uaaapaaa? Obral cuma 10 ribu dooang? *langsung nangis* *hiks, aku bisa dpt 3 seri bukunya sekaligus tuh kalo diobral 10rban. Wkwkwk

      Iya, awalnya aku juga mikir ini mirip delirium. Tapi karena aku kecewa dg delirium yg *sori, jelek* jadinya I thought I'll give it a shot. Eh tnyta matched bagus, much better than delirium IMO :D:D

      Ayo baca.. siapa tahu suka Matched juga :D

      Hapus
  8. dari awal tertarik sama buku ini, cuma belum sempet baca & ga berani nambah timbunan dulu. Baca review makin penasaran deh... Semoga ada yang jual murah nanti nanti. Ahahahaha. Thanks reviewnyaaa...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha, yg jual murah biasanya udah second.
      Thanks for commenting, too.

      Hapus
  9. novel ini masuk #wishlistbook saya tahun 2012 dan... ngga kesampean haha. and the ending was.. I prefer to buy Delirium *yg skg masih jadi timbunan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wkwkwk, ayo babat dulu timbunannya

      Hapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...